gravatar

Twigigt dan kakek setengah abad (2)

''Oh, iya. Kalau kau yang menggendongku, kenapa kau tidak terlihat di foto ini?''

Helfre tersenyum. ''Waktu itu saya sangat canggung, jadi tanpa sadar saya membuat diri saya menjadi tembus pandang.''


''Wow..!'' seru Franky kagum. ''Kau bisa membuat dirimu tak terlihat?''

''Semua twigigt dapat melakukannya, tuan,'' jawab Helfre seraya mengambil jarak dari tempat Franky duduk. ''Seperti ini, sekarang anda dapat melihat saya ... sekarang tidak ... melihat ... tidak,'' Helfre memperlihatkan kemampuannya. Franky tampak bersemangat menanggapi, seolah sedang melihat pertunjukan sulap.

''Lalu, bagaimana dengan yang tadi? Kau sedang mengejar apa?''

''Maksud, tuan?''

''Waktu kau tiba-tiba melesat dari bawah perapian,'' jelas Franky. ''Kau sedang mengejar sesuatu kan?''

''Oh, yang tadi itu..'' wajah keriput Helfre mendadak merona merah. ''Saya tadi hanya ... yah anda pasti tahulah ... -sedikit- bermain,'' kata Helfre seraya tersenyum lebar, membuat wajahnya menjadi semakin aneh. ''Semenjak kepergian ayah dan ibu tuan, saya hanya sendiri dirumah ini. Jadi saat saya merasa bosan, sesekali saya melakukan hal seperti menembus kedalam tanah kemudian melesat secepat kilat ke langit-langit sambil bersorak.''

Franky tertawa kecil mendengar jawaban Helfre. ''Terima kasih, Helfre,'' ucap pemuda itu kemudian. ''Terima kasih karena telah tetap setia menjaga rumah ini.''

''Itu sudah menjadi kewajiban saya, tuan muda,'' jawab Helfre yang merasa tersanjung dengan kata-kata yang diucapkan Franky. Sebagai tanda penghormatan, dia membungkukkan badannya serendah mungkin.

Sepersekian detik kemudian, muncul suara gemerucuk aneh diantara mereka berdua. Helfre lalu menatap Franky. ''Anda lapar?''

Franky nyengir mendengar pertanyaan tersebut. Sepertinya perut pemuda itu tidak bisa menahan lebih lama lagi. Franky memang sedang kelaparan. Seharian praktis hanya dua cangkir teh phidelya saja yang melewati tenggorokannya.

''Kalau begitu tunggu sebentar, tuan. Aku akan membuatkan makan malam,'' kata Helfre sambil bergegas pergi. Menembus dinding ruangan meninggalkan Franky.

Franky yang sendiri tidak lagi duduk diam diatas kursi. Ia mulai menjelajah keseluruh sisi ruangan yang tak lagi terselimuti kegelapan. Menatap deretan foto kenangan kedua orangtuanya yang terpajang diatas tempat perapian. Foto ketika mereka menikah, saat mereka sedang berlibur, dan saat mereka berkumpul dengan sahabat mereka. Semua terlihat gembira. Senyum dan tawa mengembang diwajah masing-masing. Tidak menyadari takdir yang buruk tengah menanti keduanya. Franky menghela nafas, ia alihkan pandangannya kesebuah foto berbingkai persegi yang berada dipojok deretan. Tampak lebih bersih daripada yang lain. Franky ingat foto itu buru-buru dikembalikan Tn. Panini ketempatnya saat ia dan Amie masuk keruangan.

Pemuda itu kemudian mengambilnya. Enam remaja tanggung berdiri berimpitan memenuhi foto. Empat pria dan dua wanita. Wiliam muda berdiri paling kanan dalam deretan, menenteng sebuah buku sambil tersenyum penuh arti. Disampingnya seorang pemuda berhidung bengkok yang dikenali Franky sebagai Tn. Panini muda tampak nyengir seraya melipat kedua tangannya didada. Dibelakang Panini muda, berdiri pemuda lain. Tinggi dan berwajah licik. Tangannya menggelantung dipundak Panini. Menatap tajam kearah kamera dan tersenyum angkuh. Ditengah deretan, berdiri seorang wanita muda berkacamata dengan senyum lugunya. Wajah wanita tersebut sangat mirip dengan Amie, hanya saja rambutnya panjang terurai. Mungkin dia adalah ibu Amie, pikir Franky. Disebelahnya, seorang wanita dengan wajah cerdas, bermata biru dan berambut ikal terlihat sedang menahan tawa. Syarah muda tampak sangat gembira pada foto tersebut. Terakhir, pemuda dengan mata cokelat dan rambut berminyak, berdiri paling kiri menatap sayu kedepan tanpa senyuman sedikit pun. Franky menyimpulkan orang-orang dalam foto tersebut adalah para sahabat orangtuanya. Kemungkinan saat itu mereka baru belasan tahun. Franky kemudian meletakkan kembali foto tersebut diatas perapian. Pagi tadi sepertinya Tn. Panini memandang foto tersebut dan tiba-tiba merindukan masa-masa bersama orangtuanya serta sahabat yang lain.

Setelah selesai memandang orantuanya didalam foto, Franky lalu beranjak kesisi lain dari ruangan tersebut. Ia sedikit terhenyak. Sebelumnya dia tidak begitu memperhatikan, dan baru menyadari sekarang bahwa ayahnya ternyata adalah orang yang suka membaca. Sangat suka. Terlihat dari dua rak besar dengan berbagai macam buku memenuhi salah satu dinding ruangan. Dibagian sudut tepatnya disamping rak, sebuah meja kayu penuh ukiran pada kaki-kakinya menarik perhatian Franky. Dia hampiri meja tersebut dan menemukan buku tua bersampul hijau gelap tergeletak diatasnya. Ketika Franky ingin membaca buku tersebut, Helfre masuk. Tidak lagi menembus dinding, ia masuk melalui pintu dengan membawa sebuah nampan berisi satu mangkuk penuh sup dan segelas susu.

''Silakan, tuan!'' Helfre mempersilakan.

''Oh, iya. Terima kasih,'' jawab Franky. Pemuda itu pun makan dengan lahapnya. Menikmati sup buatan Helfre. ''Sup yang enak, Helfre,'' kata Franky setelah selesai makan.

''Terima kasih, tuan. Saya akan menyiapkan kamar untuk anda.''

''Yah. Tapi mungkin aku akan disini dulu.''

Setelah makan malam, Helfre pergi menyiapkan kamar. Sedang Franky mulai membaca buku yang ada dimeja. Ternyata itu adalah buku catatan ayahnya. Tidak seperti buku harian milik ibunya yang kebanyakan memuat pengalaman-pengalaman Syarah di Afromesia, buku tua itu lebih menyerupai ensyclopedia. Berisi tentang bermacam-macam kata yang asing bagi Franky.  Terlihat menarik, sisa malam itu pun dia habiskan untuk membaca buku.

Keesokan paginya Franky terlambat bangun. Dia mandi secepat kilat, dan sarapan didapur dengan tergesa-gesa. Membuat Helfre yang kini terlihat lebih ceria sedikit kebingungan.

''Tuan, kenapa anda terlihat seperti sedang tergesa-gesa?'' tanya Helfe saat menuangkan teh phidelya kedalam gelas.

''Aku akan mengunjungi makam ibuku pagi ini lalu ... pulang...'' kata Franky dengan sangat pelan diakhir kalimat. Ia tidak mau menyinggung perasaan Helfre. Namun agaknya itu tidak berguna. Karena meskipun pria tua itu tidak memiliki sepasang telinga, nampaknya ia masih dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan tuannya tersebut. Terlihat dari perubahan mimik wajah yang kembali murung.

''Anda tidak menyukai cara kerja saya, tuan?'' tanya Helfre lesu.

''Tidak, Helfre. Kau bekerja dengan baik. Hanya saja...''

''Kalau begitu saya akan berusaha lebih baik lagi, tuan.''

''Bukan itu. Maksudku...''

''Oh, saya mengerti. Anda pasti tidak suka cara saya melesat dari bawah perapian. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi...''

''Bukan itu ...''

''...dan saya juga berjanji akan bersikap baik, menuruti segala perintah tuan.''

''Helfre...''

''Tidak akan muncul dan menghilang tiba-tiba.''

''Helfre..''

''Tidak akan lagi berjalan menembus dinding, dan..''

''Helfre, kumohon hentikan...!!'' seru Franky yang akhirnya dapat menghentikan kehisterisaan pembantunya.

''Maaf, tuan. Saya hanya..'' suara serak Helfre keluar begitu pelan sehingga menyulitkan Franky untuk mendengarnya.

''Begini, Helfre. Kau bekerja sangat baik. Terima kasih. Tapi aku harus pulang. Kau tentu juga mengetahui kisah mangenai perang Eteos dan  perihal Corffin yang tersegel dalam sebuah pedang kan?'' Franky berusaha menjelaskan. ''Jika aku terus berada disini...maksudku di Afromesia ini, aku hanya akan menjadi incaran para pengikut Corffin. Mereka akan memburu darahku yang dipercaya dapat membuka segel. Jadi untuk keselamatan Afromesia saat ini, lebih baik aku kembali ke duniaku.''

Helfre tidak merespon. Ia berdiri membisu dengan wajah yang masih terlihat murung. Suasana seketika menjadi sangat tidak menyenangkan bagi Franky. Dia kembali pada sarapannya dan makan dengan lambat, berharap Amie datang dan mencairkan suasana.

Setelah sarapan, Franky menunggu kedatangan Amie di ruang baca. Melanjutkan membaca buku yang tadi malam belum ia selesaikan. Terus membaca hingga siang menjelang.

Saat senja tiba, Amie belum juga muncul. Franky mulai merasa sebal. Ketika pintu ruangan terbuka, pemuda itu buru-buru mendongak mencari tahu. Namun itu hanya Helfre yang masuk keruangan sambil membawa makan malam untuknya. Menyalakan perapian dan kemudian kembali keluar tanpa mengatakan apapun. Saat malam telah meninggi, Franky putuskan untuk tidur. Mungkin hari ini Amie sedang sibuk dan akan datang besok pikirnya.

Cuap-cuap

Entri Populer