Suka-suka saya bercerita
Ini adalah blog yang isinya kumpulan cerita yang dipandang "aneh" oleh orang kebanyakan, tapi jika ditelisik lebih dalam...hmmmm...memang aneh sih..
Archives
Sheila On 7 ~ Hari Bersamanya
Lirik :
Hari telah tergantiTak bisa ku hindariTibalah saat ini bertemu dengannya
Jantungku berdegup cepatKaki bergetar hebatAkankah aku ulangi merusak harinya
[*]Mohon TuhanUntuk kali ini sajaBeri aku kekuatan‘tuk menatap matanya
[**]Mohon TuhanUntuk kali ini sajaLancarkanlah harikuHariku bersamanyaHariku bersamanya
Kau tahu betapa akuLemah dihadapannyaKau tahu berapa lamaAku mendambakannya
Back to [*][**]Tuhan tolonglah (beri kesempatan)Tuhan tolonglah (beri kesempatan)
Back to [*][**]Hariku bersamanyaHari bersamanyaHari bersamanyaHari bersamanyaHari bersamanyaHari bersamanyaHari bersamanyahttp://akhza.com/liriklaguTuhan tolonglahHari bersamanyaTuhan tolonglahHari bersamanya
lagunya dapat didownload disini
Pahlawan Eteos (2)
''Aku...bersumpah...demi nama Merra, aku...akan membunuhmu...Corffin..'' kata William kepada pria berjubah hitam yang semakin mendekatinya. Bicaranya terdengar sangat kepayahan, nafasnya pun tersengal-sengal. Mungkin itu akibat luka di mata kiri dan sekujur tubuhnya yang terus saja mengeluarkan darah.
''apa? Kau mau membunuh seorang Digranithus Corffin? Bahkan manusia jenius sepertimu masih terlalu cepat seribu tahun untuk membunuhku, Will..'' kata Corffin - pria berjubah hitam - dengan nada congkaknya yang kemudian diakhiri dengan menyeringai puas.
William tidak menjawab. Matanya terus menatap Corffin dengan tatapan kemarahan. Sedangkan tangan kirinya yang merupakan satu-satunya anggota badan yang masih dapat bergerak, terus berusaha untuk menekan luka di dada kanannya yang memang cukup parah.
''kau tau Will? Seharusnya bukan akhir seperti ini yang aku harapkan..'' kata Corffin yang kini telah berada tepat didepan William.
''Jika saja waktu itu kau terima tawaranku...pasti istrimu tidak akan berakhir seperti ini..'' lanjut Corffin dengan nada sedih yang dibuat-buat sambil mengacungkan tangannya kearah dimana ia berdiri tadi.
Franky yang mendengar dari kejauhan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tersebut. Ditempat itu terbujur lemah sesosok tubuh perempuan berlumuran darah. Hati Franky mencelos, tidak pernah sedikit pun terbersit dalam pikiran pemuda itu bahwa akan bertemu ibunya seperti ini. Rasa sedih yang teramat besar bercampur kemarahan hebat membuat mulut Franky bergetar, dan air matanya pun tidak dapat tertahankan lagi. Kemudian secara ajaib Franky perlahan lahan bangkit. Namun agaknya ia terlambat. Corffin kini telah mengacungkan tangan kanannya kearah William, ayah Franky. Dari telapak tangan itu muncul perlahan cahaya merah.
''Inilah akhir hidup sang jenius William Hegarty..'' gumam Corffin
''TIIIIDDDAAAAAKKK......!!!'' teriak Franky setelah mendengar ucapan Corffin tersebut.
Sesaat Corffin tampak menoleh kearah Franky. Mata keduanya saling bertemu. Dan bersamaan dengan itu, seluruh tubuh Franky terasa sangat sakit. Dingin dan Perih. Pemuda itu hanya bisa berteriak. Ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi, Franky perlahan kehilangan kesadarannya.
Kini yang tersisa hanyalah kegelapan. Kegelapan yang sunyi. Namun kemudian sebuah cahaya terang muncul dari atas dan semakin mendekati Franky. Dibalik cahaya itu terdengar suara merdu memanggil namanya. Pemuda itu pun berlari dan masuk ke dalam cahaya tersebut.
Lalu...
''Franky..Franky..sadarlah..Franky'' teriak Amie.
Franky tiba-tiba terperanjat dari tempat tidurnya. Seluruh badannya dibasahi keringat. Nafasnya terengah-engah.
''kau baik-baik saja kan?'' tanya Amie lirih yang duduk disamping tempat tidur.
''hah..akh..iya.. Aku baik-baik saja. Aku hanya bermimpi tadi. Mimpi buruk...'' jawab Franky tak kalah lirihnya.
***
Read More...
Pahlawan Eteos (1)
Awan gelap menutup dengan sempurna langit jingga sore itu. Di sebuah tanah lapang, seorang pemuda dengan rambut peraknya terlihat berjalan pelan. Bau anyir darah segar dari jutaan makhluk yang terbujur kaku menutpi tanah lapang itu memang sedikit mengganggunya. Pemuda itu kemudian berhenti, melemparkan pandangannya kesegala arah. Dan yang terlihat tidak ada yang lain kecuali tubuh-tubuh tak utuh berserakan secara mengenaskan disekelilingnya. Kemungkinan beberapa waktu yang lalu telah terjadi peperangan. Sebuah perang besar yang telah membuat jutaan tubuh kekar tergeletak tak berdaya di tanah yang dingin itu. Lalu semuanya menjadi sunyi. Sangat sunyi. Suara desiran angin lembut pun dapat terdengar sangat jelas ditelinga Franky. Pemuda itu kemudian terdiam, terlihat sedang berpikir. Apa kira-kira yang menyebabkan perang ini. Namun tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang tertawa. Hati Franky mencelos mendengarnya. Butuh waktu cukup lama untuk memastikan suara itu bukanlah suara arwah dari tubuh-tubuh disekelilingnya. Setelah mengetahui suara itu berasal dari balik bukit didepannya, tanpa pikir panjang Fanky segera berjalan menuju asal suara. Tidak mudah ternyata untuk mencapai puncak bukit dengan kondisi ribuan mayat tergeletak dimana-mana. Sesekali Franky harus menyingkirkan beberapa tubuh untuk membuka jalan. Ketika sampai dipuncak bukit, suara itu menjadi terdengar lebih jelas. Dan lebih mengerikan.
Seorang pria paruh baya dengan jubah hitam terlihat sedang berdiri-membelakangi Franky-dengan kokohnya. Ia terus saja tertawa terkekeh-kekeh sambil menyeringai kejam. Mata merah darahnya seolah telah menceritakan seberapa kejam dia. Sedangkan rambut hitam legam yang terurai panjang menutupi punggung semakin mempertegas kesan yang dimiliki pria itu. Franky yang secara diam-diam memperhatikan pria tersebut dari atas bukit entah kenapa semakin merasa dingin. Hawa dingin yang tidak biasa. Dan cukup membuat seluruh tubuh Franky gemetar ketakutan. Rasa takut itu menyeruak begitu saja bersamaan dengan datangnya hawa dingin tersebut.
''mungkinkah ini aura dari pria itu..?'' tanya Franky dalam hati.
Beberapa saat kemudian pria itu terdiam. Ia lalu menolehkan kepalanya ke kanan, atau tepatnya ke arah seorang pria yang penuh luka disekujur tubuhnya. Pria yang salah satu matanya tampak luka parah itu terasa sangat tidak asing bagi Franky. Jika kumis dan jenggot yang menutupi bagian bawah muka pria itu tidak ada, ia sangat mirip dengan ayah Franky. Dan betapa terkejutnya pemuda itu ketika menyadari bahwa pria tak berdaya yang penuh dengan luka adalah benar-benar ayahnya, Wiliam Hegarty.
Franky tak menyangka akan bertemu ayahnya dalam kondisi seperti itu. Meski rasa kebencian terhadap ayahnya masih ada namun tetap saja saat melihat kondisi ayahnya, Franky tidak tega. Pemuda itu kemudian berusaha bangkit untuk segera menolong ayahnya karena ia melihat pria berjubah hitam yang sedari tadi tertawa mulai berjalan mendekati ayah Franky dengan tatapan membunuh.
Tetapi semua usaha Franky sia-sia. Seberapa pun inginnya pemuda itu untuk bangkit, badannya tidak mau menurut. Kedua kakinya tiba-tiba terasa lemas. Sangat lemas. Sehingga mau tidak mau Franky hanya dapat melihat dan mendengarkan.
Read More...
***
Ucapan selamat dan permintaan maaf di hari raya
Apa kabar semua ?
Baik kan..
sebelumnya gw ucapin MINAL AIDIN WAL FA'IDZIN..MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN..buat semua pengunjung blog gw..^^
masih seputar hari raya Idul fitri, seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa hari raya ini sangat erat kaitannya dengan ketupat, opor, tradisi sungkeman dan ucapan maaf. Tapi posting kali ini gw gak akan membahas tentang ketupat ataupun opor (karna memang blog gw bkn blog yang berisi tentang cara-cara memasak berbagai makanan..). Gw juga gak membahas tentang tradisi sungkeman, apalagi sungkeman di keluarga gw..hmm gak deh..ntar malah jadi mengharu biru gimana gitu..(halah)
kali ini gw mau membahas tentang ucapan maaf di hari lebaran..(jreng jreng jreng).
Di zaman sekarang ini mungkin kita sudah jarang melihat ucapan selamat idul fitri dan permintaan maaf dalam bentuk kartu, karena pada dasarnya orang-orang kini lebih memilih menggunakan fasilitas SMS yang lebih murah. Pada lebaran kemarin gw dapat cukup banyak ucapan maaf dalam bentuk sms. Dan saat gw liat lagi ternyata ucapan-ucapan tersebut bervariasi meski pada intinya sama. Berikut ini gw tampilin beberapa ucapan selamat idul fitri dan permintaan maaf yang gw anggep cukup menarik..
''There is a time 4 everything, 2 start,2 finish,2 tears,2 smile,2 forget& 2 forgive i just wanna say met idul fitri 1431 H mhon maaf lhir btin..''
''the holy and beautiful Syawal will come soon . . .
there is no word proper to welcome it . . .
except the word of pray and forgiveness . . .
my Majesty if you forgive all my fault and hope your worship accepted by Allah .
The God of Merciful and the Beneficent
*SELAMAT IDUL FITRI*
"MinAL aIzIn waL fAIzin"
mohon maav lahir dan batin .''
''sayup terdngr takbir berkumandang.. .tanda Ramadhan tlh lewat.. .ampunan dihrap, barokah didapat..
.bila lisan dan sikap yg tk terjaga..
.bila ada lngkah membekas lara..
.ada kata merangkai dusta.
.ada tingkah menoreh luka.
.MATA kdang slah melht.
.MULUT kdng slah mengucap.
.HATI kdng slah menduga.
.RAMADHAN membasuh hati yg t.rjelaga.
.saatnya m.raih rahmat dn ampunan-Nya.
_mInal aidin wal faidzin Taqabalallahu minnaa wa minkum_''
''Danjiki omedetou gozaimasu 1431 H. Kokoro no naka ni 'Ayamari ga attara moushiwake arimasen' hanashite to omoimasu..''
''As roma lambange srigolo
AREMA lambange SINGO
lek aq duwe duso
rek sepurane yo..
(As roma lambangnya serigala
Arema lambangnya singa
Kalau gw punya dosa
Sobat maafin ya)''
''Mniti hr dlm kmpuln wkt.
Mjlani dtik mraih rdhoNya.
Brjwg mngbaikn stiap klelahn.
Dan kni spaan tkbr mggema d alm smsta.
med idul v3 1431H, Mnl aidzin Walfaidzin, mhn mf lhr&btin"
''Jika asam dosa diberi indikator tobat
&dititar dg mf yg b'sfat basa
ddpt ti2k ekuivalen impas pd pH netral
kmudian t'bntuk garam yg mdh larut dlm khangatn..
Mhn mf lhr&btin''
''Säàt ùÇàp méñjlma khläf. sàat cñdä brüjùñg duka, sàat prsàñgka brubh dsa. mfkañ smua kheklfan mski tngn tk smpt bjbat, q ucpkn minalAidziñWàlf'idziñ..mhn mf lhr ñ btn.''
''
( ) ,c, 1431H
i:i ( )
i:i _..:!ii!:.._
i:i.:i!!:..:"":..:!!i:.
SLmt 'IDUL FITRI'
mHn mAF LhiR & bTin.Smga qTa kMbLi fiTri/sUci aMIen.''
Hmm..cukup segitu dulu aja deh..smoga posting gw kali ini dapat bermanfaat bagi semuanya..
^^ Read More...
Kisah Hachiko
Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.
Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.
Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.
Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.
Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.
Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.
Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.
Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.
Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.
Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.
Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).
Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.
Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.
Read More...
Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.
Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.
Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.
Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.
Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.
Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.
Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.
Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.
Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.
Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.
Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).
Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.
Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.
Gerbang Kingswood(8) akhir
(lanjutan..)
''Apa maksudmu? Bersiap untuk ap..'' tanya Franky yang tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena bersamaan dengan tertutupnya kembali Gerbang, tempat yang dipenuhi dengan cahaya putih itu terasa merosot seperti lift yang bergerak turun namun dengan kecepatan kilat.
Franky yang memang belum pernah mengalami kejadian tersebut hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya sambil terus memegangi lengan Amie kuat kuat. Dan beberapa detik kemudian secara tiba-tiba tempat tersebut berhenti bergerak, membuat Franky jatuh tersungkur dilantai. Kepalanya terasa sangat pusing, dan perutnya pun menjadi mual, ditambah lagi kedua kakinya yang kini tak henti-hentinya gemetaran membuat pemuda itu kesulitan saat mencoba berdiri.
Akhirnya dengan bantuan Amie, Franky dapat berdiri meski masih terasa berat. Di depan mereka berdua kemudian muncul Gerbang Kingswood lagi yang sedikit demi sedikit mulai terbuka. Amie lalu berjalan menyebrangi gerbang sambil memapah Franky yang kini mulai terlihat kehilangan kesadarannya. Saat sampai dibalik gerbang, ia melihat sekerumunan orang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Mereka terlihat begitu riang, ada yang tersenyum dan ada pula yang tertawa hingga terbahak-bahak. Di tengah kerumunan tersebut mendekatlah seorang pria yang tampak gagah berwibawa dengan setelan taksido yang dipakainya. Rambut yang disisir kebelakang dan di tutup dengan topi, serta kumis yang cukup tebal menambah khasnya seorang Gusettav Yufanocca Panini, pemimpin desa tempat Gerbang Kingswood tersebut berdiri.
''oh, pengalaman pertama menyebrangi gerbang Kingswood pasti..hmm mengasyikkan bukan? Aku juga pernah mengalaminya.'' kata pria tersebut sebagi ucapan penyambutan.
''Selamat datang kembali Amie dan... kau pasti Frank ya?'' lanjut pria itu.
Franky hanya mengangguk lemas mendengar pertanyaan tersebut.
''Sudah ku duga, kau begitu mirip dengan ayahmu. Oh iya, selamat datang Frank. Sepertinya kau butuh istirahat.'' kata pria yang lebih suka dipanggil dengan nama Panini tersebut.
Kemudian Tuan Panini menyuruh dua orang menggantikan Amie memapah Franky lalu mengantarkannya ke penginapan. Dan ketika mereka akan keluar meninggalkan ruangan itu, tuan Panini berkata,
''Satu hal lagi tuan Frank Hegarty..''
''..selamat datang di Afromesia..''
***
Bab.1 Gerbang Kingswood selesai
^____^
Terima kasih semua atas dukungannya selama ini..
:)
Read More...
Gerbang Kingswood(8)
Hari itu akan menjadi salah satu hari yang tidak bakal dilupakan oleh Franky. Dimulai dengan keributan diruang makan antara nenek Franky dengan kucing kesayangannya, Embey yang membuat dirinya harus menyudahi tidurnya lebih awal. Dilanjutkan dengan datangnya surat dari ayah Franky yang berisi penuh dengan misteri dan teka-teki yang membawanya menemui seorang lelaki tua bernama Ngadirjo dan segala keanehannya, lalu juga mengetahui bahwa dirinya bukanlah dari golongan manusia--meskipun belum mendapat penjelasan secara detail--ditambah lagi munculnya seorang perempuan bernama Amie Lawings secara tiba-tiba dihadapan Franky membuat hari itu menjadi hari ulang tahunnya yang akan selalu diingat.
Satu jam sebelum tengah malam tiba, Franky, Amie, dan Ngadirjo mulai mempercepat langkahnya. Suasana saat itu cukup lengang. Hanya tinggal segelintir orang yang masih bertahan dengan kesibukannya masing-masing. Ketika sampai pada salah satu dinding penyangga jembatan layang, langkah mereka bertiga berhenti. Ngadirjo lalu merogoh saku dalam bajunya. Tampak ia sedang mencoba mengambil sesuatu dari sakunya. Sesaat kemudian tangan Ngadirjo keluar bersama sebuah jam pasir kecil. Ia menatap jam tersebut dalam dalam seolah ada sebuah kenangan dibaliknya sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke arah Amie dan Franky.
''waktu kalian hanya satu menit, mengerti..!!'' kata Ngadirjo tiba-tiba.
Franky yang masih tidak mengerti arti kata-kata Ngadirjo memilih diam. Pemuda ini mulai terbiasa untuk tidak mengajukan pertanyaan karna ia tahu pasti jawaban yang akan diberikan ke dua orang yang berada di sampingnya tersebut.
Melihat Amie menganggukkan kepala tanda mengerti, Ngadirjo kemudian mengangkat jam pasir tersebut setinggi kepalanya. Lalu ia melepaskan genggamannya. Sesaat Franky mengira jam tersebut akan jatuh ketika Ngadirjo melepaskan genggamannya. Namun ternyata tidak, jam tersebut tetap pada posisinya tak bergerak sedikitpun. Kejadian itu membuat Franky merasa kaget sekaligus kagum. Kini pemuda itu mulai benar benar percaya bahwa kedua manusia yang ada disampingnya tersebut bukanlah manusia biasa.
''kalian siap?'' tanya Ngadirjo setelah menarik nafas panjang kepada Amie dan Franky.
Keduanya mengangguk pelan namun cukup memberi keyakinan pada Ngadirjo untuk melakukan hal--yang entah itu apa--yang sebenarnya baru pertama kali ia lakukan.
''Tutup mata kalian!'' perintah Ngadirjo kepada Amie dan Franky.
Setelah keduanya menutup mata, jari jari tua Ngadirjo mulai mendorong perlahan lahan jam pasir miliknya yang telah melayang layang diantara mereka bertiga hingga terbalik dan membuat pasir dalam jam tersebut sedikit demi sedikit turun ke ruang di bawahnya. Ia lalu memperhatikan situasi disekelilingnya sebelum kemudian menyuruh Amie dan Franky membuka mata mereka kembali.
Tak ada yang berubah selain jam pasir yang kini terbalik ketika Franky membuka matanya. Namun ia kemudian sadar dengan keanehan di sekitarnya. Semua berhenti, semua diam, semua tak bergerak. Inilah keanehan yang paling membuat pemuda itu sangat kagum dari semua keanehan yang dilihatnya sepanjang hari itu. Franky juga menjadi mengerti bahwa jam pasir tersebut adalah alat penghenti waktu. Tapi kemudian timbul pertanyaan dalam diri Franky tentang apa yang mereka sembunyikan hingga sebegitu rahasianya hal tersebut.
Tiba tiba Ngadirjo berkata,''letakkan telapak tangan kalian ke dinding ini..!'' sambil meletakkan telapak tangannya sendiri ke dinding penyangga jembatan layang didepannya.
Saat Amie dan Franky melakukan hal yang disuruhnya, Ngadirjo lalu melanjutkan kata katanya dengan suara lantang dan setengah berteriak.
''Aku Ngadirjo Jaya Sasmitro, generasi ketujuh para Penghubung meminta izin untuk mengantarkan para Pendatang masuk ke dalam Afromesia. Sepenuhnya tiada niat jahat dari diri kami, maka terbukalah Gerbang Kingswood..!!''
Tak ada respon apa apa. Tapi Ngadirjo tetap terlihat berkonsentrasi penuh. Tak lama kemudian beberapa sinar kuning muncul dari ujung ujung jari tangan Ngadirjo, Amie, dan Franky. Sinar tersebut lalu bergerak membuat garis pada dinding penyangga. Seperti sedang melukis sesuatu, sinar tersebut terus meliuk liuk mengukir dinding yang ada didepan mereka bertiga. Dan lagi lagi Franky melihatnya dengan penuh kekaguman.
Beberapa saat kemudian sinar sinar tersebut berhenti bergerak dan mulai redup meninggalkan sebuah ukiran relief berbentuk seperti pintu yang besar dengan gambar didalamnya seekor burung hantu dan elang yang sedang bertengger gagah disebuah pohon yang berbeda. Dan betapa terkejutnya Franky setelah mengamati ternyata ukiran tersebut memang membentuk sebuah pintu gerbang yang besar, dan terlihat kokoh meski terbuat dari kayu. Sungguh keajaiban yang tak terbayangkan Franky sebelumnya.
''Inikah Gerbang Kingswood itu?'' tanya Franky tiba tiba.
''Ya. Inilah Gerbang Kingswood. Ayo kita masuk..!'' jawab Amie sambil mengajak Franky untuk masuk ke dalam gerbang.
Suara dernyit pintu kayu yang terbuka mengiringi langkah Amie dan Franky memasuki pintu gerbang tersebut. Ucapan terima kasih dan selamat tinggal pun mengalir dari bibir keduanya untuk Ngadirjo yang telah mengantarkan mereka. Dan ketika keduanya telah berada dibalik gerbang, yang tampak oleh Franky hanyalah hamparan cahaya putih yang menutupi seluruh ruangan itu.
''Inikah Afromesia?'' kata Franky dalam hati.
''Mulailah bersiap siap Franky, dan hati-hati dengan perutmu..'' kata Amie tiba-tiba memecah lamunan Franky.
(bersambung..)
Read More...
Albert Einstein
Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola.
Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.
Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika. Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari Munich ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.
Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.
Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negara Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.
Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss pada tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.
Einstein menikahi Mileva, seorang matematikawan pada 6 Januari 1903. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.
Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian, efek fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.
Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein di tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.
Di artikel pertamanya di tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.
Read More...
Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.
Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika. Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari Munich ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.
Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.
Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negara Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.
Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss pada tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.
Einstein menikahi Mileva, seorang matematikawan pada 6 Januari 1903. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.
Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian, efek fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.
Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein di tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.
Di artikel pertamanya di tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.
Konayuki
Nah..lagu keren yang satu ini berasal dari Negeri Matahari terbit yang berjudul Konayuki, soundtrack dari film One liter of tears.
**
Konayuki mau kisetsu wa itsumo sure chigai
Hitogomi ni magirete mo onaji sora miteru no ni
Kaze ni fukarete nita you ni kogoeru no ni
Boku wa kimi no subete nado shitte wa inai darou
Soredemo ichi oku nin kara kimi wo mitsuketa yo
Konkyo wa naikedo honki de omotterunda
Sasaina ii aimo nakute
Onaji jikan wo ikite nado ike nai
Sunao ni nare nai nara
Yorokobi mo kanashimi mo munashii dake
Konayuki nee kokoro made shiroku somerareta nara
Futari no kodoku wo wake au koto ga dekita no kai
Boku wa kimi no kokoro ni mimi wo oshi atete
Sono koe no suru hou he sutto fukaku made
Orite yukitai soko de mou ichi do aou
Wakari aitai nante
Uwabe wo nadete itano wa boku no hou
Kimi no kajikanda te mo nigirishimeru
Koto dakede tsunagatteta no ni
Konayuki nee eien wo mae ni amari ni moroku
Zara tsuku asufaruto no ue shimi ni natte yuku yo
Konayuki nee toki ni tayori naku kokoro wa yureru
Soredemo boku wa kimi no koto mamori tsuduketai
Konayuki nee kokoro made shiroku somerareta nara
Futari no kodoku wo tsutsunde sora ni kaesu kara
***
Ini artinya dalam bahasa Inggris :
I may not know everything about you
Nevertheless, I've found you among 100 million of people
There's no proof but I'm very serious of it
It's impossible to live in the same time with no single quarrel
If we can't be honest, happiness and sadness are just meaningless
If the snow powder may whiten deep to our heart
Could we both share our loneliness?
I would press my ear near to your heart
And go down deep into the place where I hear that voice and meet you once again
We want to understand each other
It's me who softly brush the surface
Just by tightly gripping your numb and cold hand
We are tied to each other
Snow powder is too fragile
In front of us, keep on leaving stains on the rough asphalt forever
Snow powder doesnot rely on time, moving our heart
Nevertheless, I'd still like to keep on protecting you
If the snow powder may whiten deep to our heart
It will cover both our loneliness and return it to the sky
***
::: Remioromen - Konayuki ::: Read More...








