Tampilkan postingan dengan label Sword of Afromesia. Tampilkan semua postingan

gravatar

twigigt dan kakek setengah abad (5)

Namun kemudian, sesuatu menangkap dan mengcengkeram bahu Franky dari belakang. Sontak Franky terperanjat saking kagetnya. Dia menengok kebelakang, dan ternyata sesuatu dibahunya itu adalah sebuah tangan, milik seorang lelaki separuh baya yang tepat berdiri dibelakangnya. Lelaki itu memiliki wajah persegi yang terlihat segar, rambutnya pirang lurus sedikit berantakan dibagian depan, serta berhidung kecil. Satu-satunya yang tampak agak aneh pada wajahnya adalah matanya, lelaki itu mempunyai mata hijau saphir yang sangat besar. Kantung-kantung hitam dibawah matanya membuat dua bulatan itu semakin aneh saja.



Lelaki itu kemudian melepaskan genggaman di bahu Franky dan tersenyum. ''Maaf, aku mengagetkanmu ya?'' tanya lelaki itu. ''Sedang apa kau di tempat ini? Bukankah kepala desa telah melarang warga untuk mendekati danau Dwiff?''

''Oh..itu, aku ... tersesat, ya aku tersesat,'' jawab Franky gugup yang diakhiri dengan sebuah seringaian kecil.

''hmm...tersesat?? Kau bukan dari desa ini ya?'' tanya lelaki itu sambil memicingkan mata besarnya.

''Yah.. sebenarnya aku baru datang ke desa ini seminggu yang lalu,'' jawab Franky.

''Tunggu dulu, seminggu yang lalu jangan-jangan kau ini si Hegarty junior ya?'' tanya lelaki bermata besar itu.

Franky mengangguk mengiyakan.''Namaku Frank Hegarty,'' katanya memperkenalkan diri.

''Oh..'' seru lelaki itu sambil terkekeh yang membuat hidung kecilnya kembang kempis tak keruan.''Jadi benar kau ini Hegarty kecil ya.. hmm..yah kau memang mirip dengannya,'' tambahnya sambil mengulurkan tangan. ''Aku Terra Dorch.''

Franky menjabat tangan Dorch, kemudian mereka duduk di batu datar yang tadi diduduki oleh Franky. ''Anda sedang apa ditempat ini?'' tanya Franky.

''Jamur, mencari jamur,'' jawabnya singkat.

''Mencari jamur?''

''Yah, jamur. Beberapa dari jenisnya memiliki khasiat yang cukup mujarab untuk pengobatan,'' jelas Dorch.

''Anda dokter?'' tanya Franky.

''Penyembuh. Disini orang-orang sepertiku disebut penyembuh,'' jawab Dorch sambil tersenyum. ''Sebenarnya jika bukan karena istriku yang telat kembali dari pencarian jamur di Meyrald aku juga tidak akan repot-repot datang ke tempat menyeramkan ini,'' tambahnya.

''Menyeramkan? Tempat ini indah menurutku.'' sanggah Franky yang jelas tidak setuju jika danau dengan air yang sangat sejuk, dan bermacam bunga tumbuh ditepiannya dikatakan menyeramkan.

Dorch tersenyum. ''Danau Dwiff memang indah, bagi mereka yang tidak mengetahui sejarah gelap tempat ini.''

''Memang pernah ada kejadian apa ditempat ini?''

''Beberapa tahun yang lalu sebelum para kesatria penjaga desa datang, pernah terjadi sesuatu yang mengerikan ditempat ini,'' cerita Dorch dengan mata yang terus memandang danau. ''Satu keluarga dibantai disini. Keluarga Brown.''

Franky menatap Dorch yang kini diam mematung. Pemuda itu ingin bertanya untuk memecah suasana, namun ia melihat bibir Dorch mulai bergerak.

''Kau tau Jo si pemilik penginapan?''

''Ya.''

''Kau tahu nama lengkapnya?''tanya Dorch yang tiba-tiba menatap Franky dengan tatapan aneh. ''Dia bernama Jonathan Brown, satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian didanau ini beberapa tahun yang lalu.. itu pun dalam keadaan yang tidak utuh.''

''Jo...? Dia? Benarkah? Maksudku, benarkah masa lalunya seburuk itu?''

''Yah, pasti tak akan ada yang menduganya.. pria gemuk besar yang suka memberi lelucon aneh dan selalu tertawa riang ternyata memiliki masa lalu yang begitu pahit.''

Franky diam. Dia tiba-tiba sedikit menyesal pernah menyebut Jo sebagai orang gila. Namun sebuah pertanyaan kemudian muncul didalam otaknya. ''Lalu.. sebenarnya apa yang sudah menyerang keluarga Brown?''

Dorch tak langsung menjawab. Pria itu kembali menatap tajam mata biru Franky. Sesekali lingkar matanya bergerak kekanan dan ke kiri, waspada seolah kata - kata yang akan ia ucapkan tak boleh terdengar siapapun. Kemudian suara lirih yang hampir seperti sebuah bisikan keluar dari mulut Dorch. ''Sesuatu yang gelap, yang hidup jauh didalam danau ini.''

Bulu kuduk Franky mulai berdiri. Mata besar Dorch belum juga berpaling, membuat Franky merasa tak nyaman. Namun suasana itu tidak berlangsung lama karena seseorang datang mendekati mereka berdua.

''Tuan, sedang apa anda disini?'' tanya sebuah suara parau yang sangat dikenali Franky.

Franky sedikit kaget mendengar suara Helfre yang sudah berdiri dibelakangnya. Tapi dia bersyukur karena dengan itu, ia dapat keluar dari suasana seram yang dibuat Dorch.

''Oh, aku ya? Aku hanya sedang berjalan-jalan menghirup udara segar,'' jawab Franky dengan nada menyindir karena ia masih kesal dengan Helfre yang tadi tiba-tiba meninggalkannya sendiri.

''Syukurlah.. saya kira tuan kesal dengan saya, lalu pergi kedalam hutan untuk mencari saya tetapi malah tersesat disini,'' kata Helfre tenang.

Franky jadi semakin kesal mendengar ucapan dari twigigt tua tersebut. Namun sebelum semua sumpah serapah keluar dari mulut Franky, seorang pria berwajah pucat yang sedari tadi berdiri dibelakang Helfre mengatakan sesuatu.

''Maaf memotong pembicaraan kalian, tapi Profesor Salazr tidak terlalu suka menunggu,'' kata Neo dengan suara datarnya yang khas.

''Siapa itu Profesor Salazr?'' tanya Franky.

''Dia adalah penjaga gerbang Kingswood sekaligus tetua desa ini,'' jawab Dorch ringan. ''Lalu siapa yang sedang ditunggu oleh Profesor, tuan kesatria?'' tanya Dorch pada Neo yang memilih memperlihatkan tatapannya yang tajam sebagai jawaban.

''Tuan muda, maafkan saya. Tadi ketika keluar dari pemakaman, saya dipanggil dengan paksa oleh laki-laki ini,'' jelas Helfre sambil menunjuk-nunjuk Neo.

''Akan aku jelaskan sambil jalan,'' kata Neo singkat saat mata Franky beralih menatapnya.

Read More...
gravatar

Twigigt dan kakek setengah abad (4)

Matahari hampir sejajar ubun-ubun ketika mereka berdua tiba di depan sebuah bangunan yang kental dengan nuansa britania pada abad pertengahan. Menatap kemegahan yang terpancar dari susunan kayu-kayu tua tersebut selama beberapa saat, kemudian dilanjutkan dengan menapaki jalan kecil yang berada disampingnya.




Jalan setapak tersebut membawa Franky dan Helfre ke sebuah area dengan pohon-pohon tinggi berdaun lebat mengelilinginya. Sinar matahari yang sebelumnya telah berhasil menyengat kulit Franky dengan sempurna kini terasa sangat bersahabat di tempat tersebut. Sedikitnya cahaya yang berhasil menerobos masuk dari balik celah rerimbunan pohon membuat area tersebut sangat teduh. Angin semilir kadang berhembus menambah kenyamanan tempat itu. Angin juga membuat pohon mengeluarkan suara gemerisiknya, saling bersahutan antara pohon satu dengan yang lain sehingga terdengar merdu ditelinga. Saat tiba ditempat tersebut Franky merasa seolah sedang disambut oleh sekumpulan pohon yang bernyanyi penuh keceriaan. Pemuda itu tampak sangat menikmati suasana yang tercipta hingga sempat melupakan jika yang ia datangi itu adalah area pemakaman umum desa Green Way.

''Tuan, anda tidak apa-apa?'' tanya Helfre dari kejauhan dengan suara parau yang dipaksakan berteriak.

Franky terhenyak. Ia kemudian mulai melemparkan pandangannya kesegala arah, mencari-cari keberadaan Helfre yang ternyata telah berdiri jauh didepannya. ''Oh, tidak apa-apa. Aku hanya terlalu asyik merasakan suasana disini,'' jawab Franky sambil berjalan mendekati Helfre. ''Inikah tempatnya?'' tanya Franky.

Helfre mengangguk. ''Mari saya antar, tuan,'' ajaknya kepada Franky. ''Tempat Nyonya besar ada dibagian dalam tempat ini.''

Keduanya pun segera masuk dengan Helfre berjalan didepan sebagai petunjuk arah. Lambat namun pasti, mereka melewati pintu gerbang besi yang berkarat dan penuh debu, menuruni empat buah anak tangga .lalu masuk lebih dalam melewati barisan nisan-nisan tua yang tertata dengan rapih.

Tidak lama kemudian, Helfre menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah nisan yang terbuat dari batu marmer hitam. Franky menatap nisan itu sesaat, lalu beralih ke Helfre dengan wajah brtanya-tanya. Seolah mengerti maksud tuannya, Helfre mengangguk pelan. Anggukan yang cukup untuk memaksa jantung Franky kembali memompa darah dengan kecepatan tinggi. Perlahan pemuda jangkung itu mendekat dan duduk disamping nisan sambil terus menatap dengan pandangan sayu kearah nisan serta gundukan tanah didepannya.

TELAH BERISTIRAHAT DENGAN TENANG
PAHLAWAN ETEOS YANG PEMBERANI
Puan Dwi Asyarah
Lahir: 07-10-1968
Meninggal: 10-05-1997

Tulisan yang terukir indah dibagian tengah nisan tersebut membuat Franky tak kuasa menahan air matanya. Ia tidak berusaha sedikit pun menghapus air mata yang mengalir diwajahnya. Franky memang sama sekali tidak memiliki maksud untuk menutupi kesedihan yang dirasakannya kali ini. Dia biarkan seluruh kesedihan dan kerinduannya mengalir bersama air mata.

Dari nisan pandangan Franky kemudian berjalan ke gundukan tanah basah didepannya. Ia dapat merasakan wanita yang pernah melahirkannya terbaring beberapa meter dibawah gundukan tersebut. Tangan kurus Franky kemudian menyentuh dengan gemetaran gundukan tanah dingin itu seolah ingin menyapa dan memberitahu kepada ibunya bahwa dia -anakny- telah datang. Mata Franky seketika terpejam dengan air mata yang semakin deras mengalir, kepalanya tertunduk, dan tubuhnya mulai gemetaran. Pemuda itu hampir tidak kuat menahan gejolak rasa yang mengacaukan tubuhnya. Namun kemudian sesuatu menguatkannya. Sebuah telapak tangan berhiaskan jari-jari kurus berkeriput menggenggam bahu pemuda itu, memberi kehangatan aneh yang menentramkan, membuat pondasi ketabahan Franky yang rapuh dan hampir roboh menguat.

Pelan-pelan perasaan Franky membaik. Ia usap air matanya kemudian melanyangkan pandangan ke arah Helfre yang telah berada disampingnya. Memberi senyum kepada twigigt tua itu sebagai tanda bahwa ia sudah tidak apa-apa.

Helfre membalas senyum itu dengan melepaskan genggamannya di bahu Franky. Ia berdiri, menatap nisan majikannya sejenak lalu beralih ke pemuda yang duduk disamping makam. ''Anda memiliki orangtua yang sangat baik, tuan,'' kata Helfre.

''Terima kasih, Helfre,'' ucap Franky yang kemudian mengusap lembut batu nisan ibunya dan kembali menyentuh gundukan tanah sambil tersenyum. ''Terima kasih, bu.''

Setelah mengucapkannya, Franky segera bergegas bangun, mengambil segenggam bunga dari keranjang yang dipegang Helfre dan menaburkannya diatas gundukan makam. ''Aku tidak melihat kau tadi membawa keranjang itu, Helfre,'' kata Franky yang sempat tidak menyangka ketika Helfre menyodorkannya sebuah keranjang penuh potongan mahkota bunga didalamnya.

''Saya menyembunyikannya dibalik jubah, tuan,'' jawab Helfre.

Ketika seluruh ritual ziarah telah mereka lakukan, Franky menghela nafas panjang. ''Mari kita pulang, Helfre,'' kata Franky yang dibalas dengan anggukan sopan dari Helfre.

Mereka pun mulai berjalan meninggalkan makam. Kini Franky yang berjalan didepan Helfre, melewati barisan makam-makam tua yang mungkin saja juga merupakan pahlawan eteos seperti ibunya, menaiki empat buah anak tangga dengan cepat sebelum akhirnya keluar melalui pintu gerbang besi berkarat. Saat hendak menyusuri jalan setapak yang akan membawanya kembali ke desa, mata Franky menangkap sekelebat makhluk berlari diantara pepohonan.

''Apa itu tadi, Helfre?'' seru Franky sambil masih mengamati pepohoan dimana ia melihat seekor makhluk brlari dengan cepat.''Kau melihatnya juga kan? Makhluk tadi.. yang berlari dengan sangat cepat,'' Franky terdengar antara penasaran dan bersemangat. ''Helfre..? Helfre..? Helfre, kau mendengarku tidak sih..?'' panggil Franky berulang kali karena Helfre tak juga menyahut. Namun saat memalingkan pandangannya kebelakang, Franky tidak melihat Helfre.

Pemuda itu kebingungan, mata biruny menjelajah ke setiap sisi tempat itu namun Helfre belum juga terlihat. Dia kembali masuk ke pemakaman untuk memastikan apakah Helfre sedang mengambil barangnya yang tertinggal disana. Namun di pemakaman pun tidak terlihat sosok tua berjubah yang dikenalinya. Franky mulai kesal. Ia berseru memanggil twigigt tua itu berulang kali dengan kasar. Tak ada suara parau yang menyahut, hanya gemerisik pohon yang terdengar. Setelah Franky yakin bahwa pelayannya telah meninggalkan dirinya seorang diri ditempat itu, dia pun memutuskan untuk berjalan menyusuri jalan setapak menuju desa -dengan perasaan sebal.

Beberapa saat kemudian Franky kembali melihat sekelebat makhluk yang ia lihat tadi ketika ia menapaki jalan ke desa. Tidak secepat waktu pertama kali terlihat, sosok itu berjalan perlahan, tepatnya terpincang-pincang. Meski tidak begitu jauh, namun sosok bertongkat tersebut tidak dapat terlihat jelas oleh Franky.

Didorong rasa penasaran, pemuda itu mengikuti sosok hitam didepannya. Mereka berjalan semakin jauh kedalam hutan. Lalu sesuatu terjadi, sosok itu menghilang dibalik pohon. Franky yakin ia masih melihatnya berjalan pincang diantara semak beberapa detik sebelumnya. Namun saat melewati sebuah pohon, sosok itu lenyap. Karena sudah kepalang tanggung Franky pun mencari sosok itu, terus mencarinya hingga kedalam hutan.

Terus menerus berjalan membuat Franky tidak menyadari bahwa ia telah semakin jauh meninggalkan area pemakaman. Pohon-pohon tinggi menemani setiap langkah pemuda itu, beberapa binatang menyerupai rusa kadang tertangkap mata Franky namun tak dihiraukannya. Entah kenapa ia menjadi sangat penasaran terhadap sosok hitam yang dilihatnya tadi.

Setelah beberapa lama berjalan Franky keluar dari hutan dan tiba disebuah danau. Ia kemudian mendekati danau tersebut, dan mengambil air beningnya untuk membasuh muka. Air danau itu terasa dingin serta menyejukkan meski matahari diatasnya tampak sangat bersemangat menyambut siang. Selesai membasuh muka, pemuda itu duduk di atas batu di tepi danau untuk sekedar meluruskan kaki-kaki kurusnya. Diatas batu trsebut, Franky mulai menyadari bahwa ia mungkin telah berjalan terlalu jauh dari desa. Namun kemudian pikirannya teralihkan, ia melihat -tidak begitu jelas- sesuatu menyelinap masuk ke balik semak disamping tempatnya duduk. Franky menghampiri semak tersebut dengan perlahan dan hati-hati. Pemuda itu tidak berpikir bahwa yang ia lihat adalah seekor kelinci karena meski hanya melihat sekejap dan tidak begitu jelas, Franky yakin ukurannya jauh lebih besar daripada kelinci.

Franky bertambah yakin jika ada sesuatu dibalik semak-semak tersebut ketika ia melihat semak itu mulai bergerak-gerak sendiri. Tangan Franky perlahan dijulurkan kedepan dan dengan sangat hati-hati menyibak semak tersebut. Kemudian dia julurkan pula kepalanya setelah sibakan yang dibuatny dirasa cukup memberi ruang untuk melihat.

Tak ada apapun dibalik semak tersebut selain patahan ranting-ranting kecil yang berserakan. Rasa penasaran dalam dirinya secepat kilat berubah menjadi sebuah kekecewaan yang sangat besar. Namun kemudian, sesuatu menangkap dan mencengkeram erat bahu Franky dari belakang....

~to be continued~
*halah..hehe see you next time... :)

Read More...
gravatar

twigigt dan kakek setengah abad (3)

Tiga hari berlalu tanpa ada tanda-tanda kemunculan dari Amie. Franky bosan menunggu, bahkan ia mulai tidak yakin Amie akan datang ke rumah. Kini Franky lebih suka menghabiskan waktu untuk berdiam diri dikamar, setidaknya hal tersebut sedikit dapat menghiburnya. Meski dia tidak sendirian di rumah tersebut, namun sikap Helfre yang belum juga mau berbicara membuat Franky seperti sedang terkurung didalam goa besar yang sunyi.


Pagi ini sudah lebih dari seminggu Franky berada di desa Green Way. Ia mulai memikirkan neneknya. Apa dia marah besar pada Franky lantaran pergi tanpa berpamitan langsung dan hanya meninggalkan surat. Atau saat ini ia sangat sedih karena cucu satu-satunya tiba-tiba menghilang begitu saja. Franky sangat mengkhawatirkan neneknya. Pemuda itu sempat berpikir apa neneknya akan baik-baik saja tanpa dia.

Pintu terbuka, memecahkan lamunan Franky. Helfre berjalan masuk sambil membawa sarapan. Entah ada angin apa, Helfre akhirnya bebicara meski hanya sekedar mempersilakan Franky agar memakan sarapannya. Franky menanggapi hal positif tersebut dengan segera melahap sepiring daging asap yang berada di meja.

''Helfre, apa nenekku pernah datang kemari?'' tanya Franky ditengah makannya.

Helfre yang telah sampai diambang pintu kemudian menghentikan langkahnya. Menoleh kearah Franky dengan wajah yang tampak berpikir. ''Maksud tuan, ibu dari ibu anda?''

''Ya.''

''Seingatku pernah tuan, satu kali. Ketika ayah dan ibu anda menikah, beliau datang. Menginap dua hari dirumah ini,''kata Helfre. ''Saya banyak belajar dari beliau, terutama dalam hal memasak.''

Franky tersenyum. ''Nenek memang seorang koki yang handal,'' ucapnya sembari mengiris daging.

''Anda tidak jadi pergi ke makam, tuan?'' tanya Helfre.

Franky terdiam sejenak. ''Tentu saja jadi, Helfre,'' kata pemuda itu. ''Tapi masalahnya aku belum tahu tempat pemakaman berada dimana, dan Amie yang mau mengantarku pun sampai sekarang belum juga datang.''

''Kenapa anda tidak mengatakannya?'' kata Helfre menanggapi. ''Saya bisa mengantar tuan jika tuan mau.''

Franky seperti orang yang sedang tidur dan tiba-tiba disiram dengan air satu ember. Ia merasa bodoh karena baru menyadari. Tidak pernah terpikir dikepalanya tentang Helfre. Pria tua yang telah mengabdi untuk keluarga Franky selama puluhan tahun tersebut pastilah mengetahui dengan jelas dimana makam ibunya berada. ''Kalau begitu tolong antarkan aku ke makam ibu ya, Helfre,'' pinta Franky seraya meletakkan piring yang telah kosong keatas meja.

''Tentu, tuan,'' jawab Helfre sambil mengangguk pelan.

Beberapa saat kemudian, setelah Franky berganti baju mereka pun berangkat. Helfre tampaknya tidak begitu nyaman dengan pancaran sinar matahari pagi ini. Terlihat dari cara ia menarik kerudung pada jubah untuk menutupi kepala botak miliknya ketika mereka mulai berjalan dijalan setapak. Bagi Franky pagi ini sangat cerah, udaranya terasa begitu menyegarkan tubuh dan itu jelas jauh lebih baik daripada berada didalam rumah yang remang serta sedikit pengap.

Mereka berjalan dengan santai, beriringan layaknya kakek dan cucu yang sama sekali tidak mirip. Terus melangkah melewati monumen Avereos Green lalu berbelok hingga sampai ke pasar. Franky semakin bersemangat ketika melihat keramaian ditempat tersebut. Secuil rasa takut sempat menghinggapi pemuda itu. Bagaimana jika ditengah keramaian tersebut ada antek-antek Corffin yang sedang mengamati, menunggu dia lengah, lalu membunuhnya tiba-tiba. Tapi pikiran itu segera menguap begitu saja ketika ia sampai didepan sebuah kios cinderamata. Kios yang tidak begitu bersih namun memajang ratusan benda menarik mata pejalan kaki yang lewat. Mungkin neneknya perlu dibelikan oleh-oleh, pikir Franky yang seketika menjatuhkan pilihannya pada topi kebun beranyam rotan dengan hiasan beberapa bulu burung berwarna merah di sisinya.

Seperti mengerti apa yang ada didalam otak tuannya, Helfre bubu-buru mengingatkan Franky tentang tujuan mereka keluar rumah. Pemuda itu pun akhirnya melanjutkan perjalanan dengan sedikit rasa kecewa karena harus merelakan topi kebun tersebut tetap tergantung didalam kios yang kotor.

Setelah meninggalkan pasar, beberapa saat kemudian Franky dan Helfre menemui sebuah perempatan besar. Mereka berhenti di ujung perempatan. Helfre nampaknya berpikir sangat keras sebelum menentukan arah kemana mereka harus berbelok. Hal tersebut membuat Franky mulai merasa tak yakin dengan pria tua disampingnya tersebut. Dan ketidakyakinan Franky semakin besar saat jalan yang dipilih Helfre ternyata malah membawa mereka ke tepi hutan, bukan pemakaman.

Mereka kembali ke perempatan. Helfre kemudian memilih arah, kali ini dengan gugup. Meski tidak yakin, Franky tetap mengikuti. Di ujung jalan, tak ada satu nisan pun yang mereka jumpai. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah gandum, gandum, dan gandum. Ladang gandum didepan mereka membentang luas bagai permadani emas, menyuguhkan panorama yang indah. Namun bukan ini yang Franky cari.

''Helfre, kau yakin benar-benar tahu dimana tempat pemakaman?'' tanya Franky saat mereka berjalan kembali ke perempatan.

Helfre agak gugup. ''tentu ... tentu, tuan ... hanya saja ... desa ini telah ... banyak berubah,'' jawab Helfre terbata-bata.

''Memangnya kapan terakhir kali kau keluar dari rumah?''

''Saat pemakaman ibu tuan,'' jawab Helfre.

Pantas jika Helfre tidak mengingatnya, sudah lebih dari sepuluh tahun pria tua itu terus saja berada didalam rumah. Rasa kesal yang tadinya sempat muncul pada diri Franky kini berganti dengan rasa iba. Begitu setia pria tua itu menjaga rumah orangtuanya, bahkan hingga tidak sekali pun ia pernah keluar meninggalkan rumah tersebut.

Setiba di perempatan -untuk ketiga kalinya- Franky dan Helfre segera mengambil jalan yang tersisa. Franky merasa pernah melewati jalan tersebut. Dan benar saja, lima belas menit berselang mereka berdua sampai di depan penginapan milik Jo.

Franky tidak masuk ke penginapan, matanya sibuk mencari-cari sesuatu. Lalu ia menemukannya, sebuah toko sederhana dengan bunga-bunga eforbia dalam pot berjejer mengihasi bagian depannya dan sebuah papan nama bertuliskan ''Criss and Griss'' tergantung di atas bangunan. Pemuda itu berjalan mendekati toko, menengok bagian dalam lewat kaca besar yang terpasang didinding sebelum akhirnya membuka pintu.

Suara gemerincing lonceng-lonceng kecil mengiringi langkah Franky memasuki ruangan. Wanita dengan google las berlensa hitam muncul dari bawah bufet.

''Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?!'' wanita itu mengucapkan salam tanpa sedikitpun memandang kearah Franky. Ia terlihat sedang sibuk mengelas sebuah benda berbentuk piringan.

''Hai, Griss ...'' sapa Franky. ''Kau sedang sibuk ya?''

Grissilya menghentikan pengelasan, ia menoleh kearah Franky dan membuka google lasnya. ''Oh, rupanya kau Franky,'' seru Grissilya bersemangat. ''Maaf, aku kira si tua gila Jo.''

''Si tua gila Jo?''

''Sebenarnya tidak benar-benar gila sih,'' kata Grisslya sambil tersenyum. ''Tapi ... yah, kau juga tahu kan. Maksudku tentang leluconnya.''

Franky tersenyum. ''Iya, selera humornya memang agak aneh,'' tambahnya.

''Agak aneh? Dia itu sangat aneh, Franky,'' kata Grissilya. ''Pagi tadi saja, ia sudah lima kali memintaku memperbaiki tempat tidurnya. Hah, aku ini kan mekanik..bukan tukang kayu.''

Franky tertawa mendengar Grissilya bercerita tentang Jo. Bercerita tentang kesebalannya mendengar lelucon garing yang Jo lontarkan. Pemilik penginapan tersebut memang selalu mengeluarkan lelucon bodoh hampir disetiap kata-katanya. Franky sendiri juga pernah mendengar lelucon dari Jo, sehingga ia sedikit banyak mengerti yang dirasakan Grissilya.

''Oh, iya. Ada hal penting apa hingga menyempatkan datang kesini, Franky?'' tanya Grissilya yang kini sedang menutup piringan yang dilasnya tadi dengan lempengan logam berbentuk cakram.

''Ah, iya.. hampir lupa,'' kata Franky. ''Apa kau lihat Amie beberapa hari terakhir ini, Griss?''

''Amie.. belum, aku belum melihatnya. Benar juga, kemana dia?'' Grissilya baru menyadari bahwa dirinya juga belum melihat Amie dua hari terakhir. ''Terakhir bertemu waktu ia usai mengantarmu, brati tiga hari yang lalu.''

''Mungkin dia sedang keluar desa,'' kata Cristhoper yang tiba-tiba muncul dari balik pintu belakang toko. ''Mencari rempah-rempah seperti biasanya.''

''Ya, benar juga,'' kata Grissilya membenarkan dugaan kakaknya tersebut.

''Tapi ... apa biasanya juga sampai selama ini?'' tanya Franky.

''Tidak juga sih. Biasanya paling lama dua hari, itu pun pasti ditemani Neo,'' jawab Grissilya. ''Tunggu dulu. Berarti Amie tidak sedang mencari rempah-rempah aku rasa.''

''Kenapa?'' tanya Cristhoper.

''Karena aku bertemu dengan Neo, Zamora, serta Theodore dua hari yang lalu dan semalam juga,''

''Jika para kesatria masih ada di desa, mungkin Amie pergi sendirian kali ini,'' jelas Cristhoper. ''Aku lihat ia juga sudah semakin ahli menggunakan crownya. Jadi wajar kan kalau ia pergi sendiri saja.''

''Benar juga,'' ucap Grissilya. ''Tapi ngomong-ngomong, kenapa kau menanyakannya Franky?'' tanyanya dengan nada curiga. ''Jangan-jangan kau menyukai Amie ya?'' wanita tomboy tersebut bertanya dengan pandangan ingin tahu, membuat Franky menjadi gugup, membuat Helfre menahan keinginannya untuk tertawa, dan membuat Cristhoper terkejut aneh tak karuan.

''Ti...tidak. Tentu saja tidak,'' jawab Franky. ''Hanya saja tiga hari yang lalu Tn. Panini meminta Amie untuk mengantarkan aku ke makam ibuku. Namun sampai sekarang aku belum bertemu dengannya,'' jelas Franky yang disambut desah lega Cristhoper.

''Oh, kau mau pergi ke makam rupanya,'' kata Grissilya. ''Kalau begitu kau sudah hampir sampai, Franky.''

''Benarkah, dimana?''

''Di samping belakang gedung Kingswood.''

''Gedung Kingswood?''

''Bangunan besar dengan menara jam disampingnya yang berada di ujung jalan ini.'' jawab Grissilya. ''Kau tinggal ikuti jalan batu disamping gedung tersebut, nanti pasti sampai.''

Franky melihat keluar dan sekitar dua blok dari tempatnya berdiri ia menemukan bangunan yang dimaksud Grissilya. ''Bangunan disana itukah yang kau maksud, Griss?'' tanya Franky memperjelas.

Grissilya mengangguk. ''Iya, bangunan itu. Bukankah kau pernah kesana?''

''Kapan?''

''Kau datang kesini lewat gerbang Kingswood kan?'' tanya Grissilya. ''Gerbang itu ada didalam bangunan tersebut.''

''Oo... Jadi bangunan itu tempat gerbang Kingswood berada,'' kata Franky. ''Aku tidak terlalu ingat. Aku pingsan begitu sampai disini.''

Grissilya dan Cristhoper tersenyum. ''Yah, pengalaman pertama memang agak memusingkan,'' kata Grissilya. ''Bahkan Criss sampai pucat karena terus saja muntah-muntah waktu pertama kali melewati gerbang.''

''Hey... Setidaknya aku tidak menangis meraung-raung seperti orang kesurupan,'' seru Cristhoper membalas sindiran dari adiknya tersebut.

''Kepalaku terbentur waktu itu, Criss,'' elak Grissilya.

Melihat pertengkaran kecil dua bersaudara didepannya Franky berusaha menengahi. ''Criss, Griss, maaf mengganggu kalian, tapi aku sepertinya harus segera pergi.''

''Oh, iya. Maaf, Franky. Kami memang selalu bertengkar.''

''Yah.. mau bagaimana lagi, kakak adik memang begitu kan,'' tambah Cristhoper sambil nyengir.

''Kalian ini..'' kata Franky. ''Kalau begitu aku permisi ya,'' pamitnya. ''Terima kasih sudah memberitahu, Griss.''

''Sama-sama.''

Franky dan Helfre kemudian keluar dari dari toko dan mulai berjalan menuju tempat pemakaman umum yang disebutkan Grissilya.

Read More...
gravatar

Twigigt dan kakek setengah abad (2)

''Oh, iya. Kalau kau yang menggendongku, kenapa kau tidak terlihat di foto ini?''

Helfre tersenyum. ''Waktu itu saya sangat canggung, jadi tanpa sadar saya membuat diri saya menjadi tembus pandang.''


''Wow..!'' seru Franky kagum. ''Kau bisa membuat dirimu tak terlihat?''

''Semua twigigt dapat melakukannya, tuan,'' jawab Helfre seraya mengambil jarak dari tempat Franky duduk. ''Seperti ini, sekarang anda dapat melihat saya ... sekarang tidak ... melihat ... tidak,'' Helfre memperlihatkan kemampuannya. Franky tampak bersemangat menanggapi, seolah sedang melihat pertunjukan sulap.

''Lalu, bagaimana dengan yang tadi? Kau sedang mengejar apa?''

''Maksud, tuan?''

''Waktu kau tiba-tiba melesat dari bawah perapian,'' jelas Franky. ''Kau sedang mengejar sesuatu kan?''

''Oh, yang tadi itu..'' wajah keriput Helfre mendadak merona merah. ''Saya tadi hanya ... yah anda pasti tahulah ... -sedikit- bermain,'' kata Helfre seraya tersenyum lebar, membuat wajahnya menjadi semakin aneh. ''Semenjak kepergian ayah dan ibu tuan, saya hanya sendiri dirumah ini. Jadi saat saya merasa bosan, sesekali saya melakukan hal seperti menembus kedalam tanah kemudian melesat secepat kilat ke langit-langit sambil bersorak.''

Franky tertawa kecil mendengar jawaban Helfre. ''Terima kasih, Helfre,'' ucap pemuda itu kemudian. ''Terima kasih karena telah tetap setia menjaga rumah ini.''

''Itu sudah menjadi kewajiban saya, tuan muda,'' jawab Helfre yang merasa tersanjung dengan kata-kata yang diucapkan Franky. Sebagai tanda penghormatan, dia membungkukkan badannya serendah mungkin.

Sepersekian detik kemudian, muncul suara gemerucuk aneh diantara mereka berdua. Helfre lalu menatap Franky. ''Anda lapar?''

Franky nyengir mendengar pertanyaan tersebut. Sepertinya perut pemuda itu tidak bisa menahan lebih lama lagi. Franky memang sedang kelaparan. Seharian praktis hanya dua cangkir teh phidelya saja yang melewati tenggorokannya.

''Kalau begitu tunggu sebentar, tuan. Aku akan membuatkan makan malam,'' kata Helfre sambil bergegas pergi. Menembus dinding ruangan meninggalkan Franky.

Franky yang sendiri tidak lagi duduk diam diatas kursi. Ia mulai menjelajah keseluruh sisi ruangan yang tak lagi terselimuti kegelapan. Menatap deretan foto kenangan kedua orangtuanya yang terpajang diatas tempat perapian. Foto ketika mereka menikah, saat mereka sedang berlibur, dan saat mereka berkumpul dengan sahabat mereka. Semua terlihat gembira. Senyum dan tawa mengembang diwajah masing-masing. Tidak menyadari takdir yang buruk tengah menanti keduanya. Franky menghela nafas, ia alihkan pandangannya kesebuah foto berbingkai persegi yang berada dipojok deretan. Tampak lebih bersih daripada yang lain. Franky ingat foto itu buru-buru dikembalikan Tn. Panini ketempatnya saat ia dan Amie masuk keruangan.

Pemuda itu kemudian mengambilnya. Enam remaja tanggung berdiri berimpitan memenuhi foto. Empat pria dan dua wanita. Wiliam muda berdiri paling kanan dalam deretan, menenteng sebuah buku sambil tersenyum penuh arti. Disampingnya seorang pemuda berhidung bengkok yang dikenali Franky sebagai Tn. Panini muda tampak nyengir seraya melipat kedua tangannya didada. Dibelakang Panini muda, berdiri pemuda lain. Tinggi dan berwajah licik. Tangannya menggelantung dipundak Panini. Menatap tajam kearah kamera dan tersenyum angkuh. Ditengah deretan, berdiri seorang wanita muda berkacamata dengan senyum lugunya. Wajah wanita tersebut sangat mirip dengan Amie, hanya saja rambutnya panjang terurai. Mungkin dia adalah ibu Amie, pikir Franky. Disebelahnya, seorang wanita dengan wajah cerdas, bermata biru dan berambut ikal terlihat sedang menahan tawa. Syarah muda tampak sangat gembira pada foto tersebut. Terakhir, pemuda dengan mata cokelat dan rambut berminyak, berdiri paling kiri menatap sayu kedepan tanpa senyuman sedikit pun. Franky menyimpulkan orang-orang dalam foto tersebut adalah para sahabat orangtuanya. Kemungkinan saat itu mereka baru belasan tahun. Franky kemudian meletakkan kembali foto tersebut diatas perapian. Pagi tadi sepertinya Tn. Panini memandang foto tersebut dan tiba-tiba merindukan masa-masa bersama orangtuanya serta sahabat yang lain.

Setelah selesai memandang orantuanya didalam foto, Franky lalu beranjak kesisi lain dari ruangan tersebut. Ia sedikit terhenyak. Sebelumnya dia tidak begitu memperhatikan, dan baru menyadari sekarang bahwa ayahnya ternyata adalah orang yang suka membaca. Sangat suka. Terlihat dari dua rak besar dengan berbagai macam buku memenuhi salah satu dinding ruangan. Dibagian sudut tepatnya disamping rak, sebuah meja kayu penuh ukiran pada kaki-kakinya menarik perhatian Franky. Dia hampiri meja tersebut dan menemukan buku tua bersampul hijau gelap tergeletak diatasnya. Ketika Franky ingin membaca buku tersebut, Helfre masuk. Tidak lagi menembus dinding, ia masuk melalui pintu dengan membawa sebuah nampan berisi satu mangkuk penuh sup dan segelas susu.

''Silakan, tuan!'' Helfre mempersilakan.

''Oh, iya. Terima kasih,'' jawab Franky. Pemuda itu pun makan dengan lahapnya. Menikmati sup buatan Helfre. ''Sup yang enak, Helfre,'' kata Franky setelah selesai makan.

''Terima kasih, tuan. Saya akan menyiapkan kamar untuk anda.''

''Yah. Tapi mungkin aku akan disini dulu.''

Setelah makan malam, Helfre pergi menyiapkan kamar. Sedang Franky mulai membaca buku yang ada dimeja. Ternyata itu adalah buku catatan ayahnya. Tidak seperti buku harian milik ibunya yang kebanyakan memuat pengalaman-pengalaman Syarah di Afromesia, buku tua itu lebih menyerupai ensyclopedia. Berisi tentang bermacam-macam kata yang asing bagi Franky.  Terlihat menarik, sisa malam itu pun dia habiskan untuk membaca buku.

Keesokan paginya Franky terlambat bangun. Dia mandi secepat kilat, dan sarapan didapur dengan tergesa-gesa. Membuat Helfre yang kini terlihat lebih ceria sedikit kebingungan.

''Tuan, kenapa anda terlihat seperti sedang tergesa-gesa?'' tanya Helfe saat menuangkan teh phidelya kedalam gelas.

''Aku akan mengunjungi makam ibuku pagi ini lalu ... pulang...'' kata Franky dengan sangat pelan diakhir kalimat. Ia tidak mau menyinggung perasaan Helfre. Namun agaknya itu tidak berguna. Karena meskipun pria tua itu tidak memiliki sepasang telinga, nampaknya ia masih dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan tuannya tersebut. Terlihat dari perubahan mimik wajah yang kembali murung.

''Anda tidak menyukai cara kerja saya, tuan?'' tanya Helfre lesu.

''Tidak, Helfre. Kau bekerja dengan baik. Hanya saja...''

''Kalau begitu saya akan berusaha lebih baik lagi, tuan.''

''Bukan itu. Maksudku...''

''Oh, saya mengerti. Anda pasti tidak suka cara saya melesat dari bawah perapian. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi...''

''Bukan itu ...''

''...dan saya juga berjanji akan bersikap baik, menuruti segala perintah tuan.''

''Helfre...''

''Tidak akan muncul dan menghilang tiba-tiba.''

''Helfre..''

''Tidak akan lagi berjalan menembus dinding, dan..''

''Helfre, kumohon hentikan...!!'' seru Franky yang akhirnya dapat menghentikan kehisterisaan pembantunya.

''Maaf, tuan. Saya hanya..'' suara serak Helfre keluar begitu pelan sehingga menyulitkan Franky untuk mendengarnya.

''Begini, Helfre. Kau bekerja sangat baik. Terima kasih. Tapi aku harus pulang. Kau tentu juga mengetahui kisah mangenai perang Eteos dan  perihal Corffin yang tersegel dalam sebuah pedang kan?'' Franky berusaha menjelaskan. ''Jika aku terus berada disini...maksudku di Afromesia ini, aku hanya akan menjadi incaran para pengikut Corffin. Mereka akan memburu darahku yang dipercaya dapat membuka segel. Jadi untuk keselamatan Afromesia saat ini, lebih baik aku kembali ke duniaku.''

Helfre tidak merespon. Ia berdiri membisu dengan wajah yang masih terlihat murung. Suasana seketika menjadi sangat tidak menyenangkan bagi Franky. Dia kembali pada sarapannya dan makan dengan lambat, berharap Amie datang dan mencairkan suasana.

Setelah sarapan, Franky menunggu kedatangan Amie di ruang baca. Melanjutkan membaca buku yang tadi malam belum ia selesaikan. Terus membaca hingga siang menjelang.

Saat senja tiba, Amie belum juga muncul. Franky mulai merasa sebal. Ketika pintu ruangan terbuka, pemuda itu buru-buru mendongak mencari tahu. Namun itu hanya Helfre yang masuk keruangan sambil membawa makan malam untuknya. Menyalakan perapian dan kemudian kembali keluar tanpa mengatakan apapun. Saat malam telah meninggi, Franky putuskan untuk tidur. Mungkin hari ini Amie sedang sibuk dan akan datang besok pikirnya.

Read More...
gravatar

Twigigt dan kakek setengah abad (1)

Suara samar-samar dari rerantingan pohon Chanum yang saling bergesekan akibat tiupan angin menjadi satu-satunya suara yang dapat terdengar hingga kedalam rumah kayu besar milik orangtua Franky. Kegelapan malam yang mulai menampakkan diri di luar pun seolah tidak memberi arti lebih pada rumah yang tampaknya memang telah akrab dengan sistem pencahayaan minim tersebut. Praktis Franky yang masih tertidur hanya ditemani sebatang lilin , itupun hanya tinggal tersisa setengahnya karena telah menyala sejak dari pemuda itu mulai berbincang dengan Tn. Panini tadi pagi.


Angin dingin yang berhasil menerobos masuk kedalam ruangan dari celah-celah cendela  berhembus perlahan, membuat suasana menjadi semakin nyaman untuk beristirahat diruangan itu. Di atas kursi empuk berwarna magenta, Franky terlelap dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Nampaknya pemuda itu tidak terlalu menikmati tidurnya kali ini. Tak jarang tubuh Franky menggeliat kekanan dan kekiri seolah mencoba menghindari sesuatu. Kemudian layaknya orang yang baru saja lolos dari jeratan pasir hisap, mendadak tubuh Franky terperanjat dari kursi. Mata biru pemuda itu menatap tajam kegelapan didepan seakan dapat melihat apa yang ada dibaliknya. Jantung yang masih berdetak kencang serta tubuh yang mulai bergetar hebat membuat Franky serasa seperti baru saja dihajar sekawanan preman yang sering mangkal didepan sekolahnya.

Pemuda itu mencoba mendudukkan tubuhnya kembali dan berusaha menenangkan pikirannya. Namun agaknya hal tersebut sia-sia karena rasa lapar yang teramat sangat membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Pemuda itu baru saja melihat -dalam mimpinya- sekumpulan binatang menyerupai serigala tapi bermata delapan sedang menyerang seorang gadis bergaun biru laut. Seolah sedang menjaga sesuatu dibelakangnya, gadis itu tidak berupaya sama sekali untuk menghindar dari serangan para serigala hitam yang membabi buta. Alhasil meskipun dapat melumpuhkan beberapa dengan pancaran sinar putih yang melesat tajam keluar dari ujung-ujung jarinya, namun pada akhirnya gadis itu tak mampu mempertahankan diri. Ia roboh, jatuh ketanah yang hitam dan dingin. Franky merasa tak asing dengan perawakan gadìs tersebut. Namun kepalanya tidak berhasil mendapatkan apapun tentang gadis yang -dalam mimpinya- terbaring kaku didepannya. 

Didalam kekalutannya, tiba-tiba Franky mendengar suara langkah kaki. Langkah yang terkesan berat dan sedikit diseret membuat pemuda itu mengesampingkan mimpinya untuk beberapa saat. Suara itu terdengar semakin keras sehingga mengacaukan keheningan malam yang telah terjalin dirumah tersebut. Franky berdiri mengambil sikap waspada karena ia merasa suara itu semakin mendekati ruangannya. Suara langkah itu semakin mendekat dan berhenti tepat didepan pintu ruangan. Franky sempat melihat cahaya hijau terang yang muncul dari celah pintu bagian bawah sebelum akhirnya menghilang saat pemuda itu hendak mengamatinya.

Franky mulai merasa ngeri, terlebih ia baru saja diberitahu pagi tadi bahwa ada banyak makhluk kegelapan yang akan mencoba memburu -darahnya. Serta kenyataan tentang ia baru saja terbangun dari mimpi yang sangat buruk, menambah sempurnanya kengerian yang ia rasakan. Seiring dengan hembusan hawa dingin yang tak lagi menenangkan dan lebih terasa menusuk hingga ke tulang, bulu kuduk Franky perlahan berdiri seolah mengerti dan mendukung sepenuhnya atas perasaan pemuda berambut perak itu. Kemudian ketika seluruh perhatian Franky tertuju kearah pintu masuk, ia mendengar suara gemuruh aneh yang berasal dari balik bawah lantai ruangan. Suara tersebut bergerak pelan melewati tempat Franky berdiri, terus bergerak ke bawah perapian lalu berhenti. Pandangan pemuda itu pun beralih dari pintu ke tempat perapian yang gelap, memajukan kepalanya agar lebih jelas melihat. Namun yang ia temukan hanya setumpuk abu kering yang tersamar oleh kegelapan. Merasa kurang puas dengan hasil pengamatannya, Franky melanjutkan kesisi yang lebih dalam dari perapian itu dan yang ia temukan tidak lebih dari sekedar kegelapan.
 
Secara tidak terduga, cahaya hijau seterang lampu pijar menyembul dari balik abu lalu melesat keatas dengan suara berisik bak lolongan serigala. Sontak Franky yang berdiri beberapa inci dari perapian berteriak sekuatnya. Tubuhnya melompat kebelakang -ke atas kursi baca ayahnya- dengan sendirinya. Jantungnya berdegup sangat kencang seolah dapat terlempar hingga ke kerongkongannya sewaktu-waktu. Pemuda itu meringkuk gemetaran diatas kursi dengan mata yang terus memandang cahaya diatasnya.

Berputar cepat di langit-lagit ruangan beberapa kali sebelum akhirnya turun perlahan dengan anggunnya ke lantai, membuat Franky mengerti bahwa yang dilihatnya adalah segumpal asap yang dapat mengeluarkan cahaya kehijauan. Suara berisik yang berasal dari asap tersebut pun akhirnya berhenti ketika mencapai lantai ruangan. Kemudian dari dalam gumpalan muncul sesosok tubuh, tinggi terbalut jubah lusuh berwarna cokelat lumpur. Sepasang tangan kurus kemudian menyeruak keatas diantara jubahnya. Layaknya orang yang baru saja mempersembahkan sebuah pertunjukan, sosok itu mendongak keatas sambil memejamkan matanya dan terkekeh penuh kepuasan.

''Si...siapa kau?'' tanya Franky dari atas tempat duduknya.

''Helfre... Helfre yang perkasa tentu saja,'' jawab sosok tersebut dengan ringan diikuti kekehan kecil.

Beberapa detik kemudian, tubuh sosok itu terhenyak. Ia seperti baru saja menyadari sesuatu. Dua bulatan yang sedari tadi tertutup oleh keriput tiba-tiba membelalak seolah ingin keluar dari tempatnya. Sosok itu menatap tajam dari balik hidung terongnya kearah pemuda berambut perak yang tampak gemetaran diatas kursi tepat didepannya.

''Siapa kau?''

''Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Kau bukan penduduk desa ini kan?''

''Kau...kau pasti penyusup..'' Helfre terlihat terkejut mendengar kata-katanya sendiri sehingga tanpa sadar ia memundurkan kakinya beberapa langkah.

''Tidak.. Bukan.. Aku bukan penyusup,'' kata Franky mencoba menjawab diantara kebingungannya.

''Lalu kau siapa?''

''Dan kenapa kau bisa berada di rumah milik tuanku?'' tanya Helfre setengah berteriak.

''Apa kau bilang tadi... Rumah milik tuanmu?''

''Ya. Tuan Hegarty adalah tuanku. Kenapa? Kau gemetaran mendengar namanya bukan, penyusup muda?!'' seru Helfre dengan suara seraknya.

''Sudah kubilang, aku bukan penyusup... Namaku Frank... Frank Hegarty,'' kata Franky sambil menurunkan kedua kakinya dari atas kursi dan berusaha duduk dengan sewajarnya.

''Oh, Frank Hegarty ya... Tunggu... Kau bilang namamu Hegarty... Frank Hegarty?'' kata Helfre yang tiba-tiba terkejut  dan menampilkan mimik muka yang aneh.

Franky mengangguk pelan tanda mengiyakan.

''Kau... Kau benar-benar Frank Hegarty... Putra tunggal keluarga tuanku?'' Tanya Helfre yang kini lebih menyerupai lolongan serigala. Tampak gusar, dia melayang kekanan dan kekiri dengan nafas yang tertahan.

''YA.. AKU FRANK HEGARTY..'' Franky dengan jelas mengatakannya.

Seketika tubuh Helfre membeku mendengar jawaban Franky. Mulutnya menganga. Pandangannya hampa namun tidak beralih dari pemuda itu. Muka keriputnya mendadak pucat pasi.

Setelah beberapa saat, Helfre kemudian bergerak pelan. Berjalan menyeret jubahnya menuju tempat perapian. Menyalakan api dengan menjentikan jari-jari kurusnya. Dan ruangan yang tadinya terbenam oleh kegelapan pun dalam sekejap telah berganti terang dan hangat. Helfre lalu beralih kesisi atas perapian. Tampak sedang mencari sesuatu dalam deretan pigura yang tertata rapi. Akhirnya dia menemukan, sebuah foto dalam bingkai kecil diambilnya. Dia tatap foto tersebut sedalam yang ia bisa.

Tampak sedih, Helfre bergerak mendekati Franky. Perlahan berjalan mengitari kursi sambil bersikap seolah sedang mengenang sesuatu. Memandang wajah pemuda yang tadi sempat dibentaknya dari dekat, kemudian tersenyum lebar.

''Aku tak mengira kita dapat bertemu lagi tuan muda,'' kata Helfre yang telah kembali dengan suara seraknya.

Franky hanya tersenyum. Sebenarnya dia tidak begitu mengerti apa yang dimaksud Helfre. Dia juga tidak terlalu nyaman karena deretan gigi tidak teratur dari pria tua itu berada terlalu dekat dengannya. Membuat Franky menjadi gugup dan kikuk.

Kemudian foto itu disodorkan kepada Franky. Sebuah Foto yang terlihat cukup usang. Didalamnya, seorang pemuda gagah paruh baya berambut perak mengkilat dan seorang wanita berparas manis dengan rambut ikal yang terurai sebahu sedang berdiri berdampingan sambil menyuguhkan senyum ramah mereka. Diantara keduanya tampak seorang bayi sehat  sedang melayang-layang sambil tertawa penuh semangat keceriaan.

Franky mengenali foto tersebut. Itu ayah dan ibunya. Dan bayi yang melayang itu adalah dirinya. Sesaat ada semacam kegembiraan yang menyesakkan dada pemuda itu, mencuat begitu saja dari dalam hatinya ketika menatap gambar tak bergerak dari keluarganya tersebut.  Pemuda itu marasa menemukan satu lagi serpihan kenangan tentang orangtuanya. Tapi yang sedikit membingungkan kenapa dia bisa melayang-layang sendiri. Apakah orangtuanya yang membuatnya begitu agar terlihat lucu. Atau dia melakukannya sendiri.

''Tuan muda baru berumur satu tahun saat itu. Dan aku diberi kehormatan untuk menggendong tuan muda oleh ibu tuan saat foto tersebut diambil,'' cerita Helfre sambil sesenggukan.

''Mereka sungguh orang-orang yang baik.. Benar-benar baik,'' ucap Helfre yang diikuti raungan histeris dari mulutnya.

Franky tidak berkata apapun, bahkan untuk sekedar menenangkannya. Pemuda itu juga terlarut dalam perasaan yang aneh. Membuat matanya semakin lama semakin perih dan akhirnya berkaca-kaca.

Namun Franky segera dapat menguasai dirinya kembali. Ia menarik nafas panjang lalu membuangnya jauh-jauh. Melihat Helfre yang tidak lagi sehisteris beberapa menit lalu, Franky memberanikan diri untuk bertanya.

''Maaf, Tuan Helfre. Jika anda tidak keberatan, bisakah anda memperkenalkan diri anda?'' tanya Franky dengan sangat hati-hati.

''Oh, emm..yah. Tentu saja.'' jawab Helfre sambil mengusap sisa-sisa air matanya.

''Sebelumnya tuan muda, anda cukup memanggil saya Helfre saja tuan,'' lanjutnya.

''Baiklah. Tapi aku minta, anda juga cukup memanggil saya Franky saja,'' sahut Franky.

''Maaf, tetapi saya tidak bisa melakukannya. Didalam surat kontrak disebutkan bahwa kami harus memanggil tuan kami dengan nama tuan atau nyonya.''

''Surat kontrak apa?''

''Surat kontrak perjanjian kerja, tuanku.''

''Surat kontrak perjanjian kerja?''

''Yah. Saya adalah twigigt, anda ingat? Turun temurun kami bertugas untuk membantu para penduduk Afromesia. Maka untuk menjaga agar hak-hak kami tidak dilanggar, dibuatlah surat kontrak perjanjian kerja. Saya termasuk yang beruntung diantara lainnya. Karena sekitar dua puluh enam tahun yang lalu saya ditugaskan untuk membantu ayah tuan,''

''Jadi... Kau seperti pembantu, begitukah?''

''Sebenarnya kami lebih senang dipanggil penolong. Tapi pembantu juga sama saja artinya. Yah, seperti itulah kami,'' jawab Helfre.

Read More...
gravatar

Pahlawan Eteos (8)

''Maaf Franky,'' ucap Panini penuh penyesalan dan tergambar jelas pada muka kusutnya. ''Saat aku tiba ditempat itu, aku hanya menemukan tubuh ibumu,'' nafas Panini sempat tertahan ketika mengatakannya.


''Ia terluka sangat parah, namun ia masih dalam keadaan sadar. Aku -sungguh- ingin langsung membawanya pada para penyembuh, tapi ibumu bilang itu tidak perlu,'' lanjut Tn. Panini.

''Syarah lalu menceritakan semua perihal tentang kejadian ditempat itu. Tentang Corffin -yang terbelenggu dalam pedang Afromesia- dan tentang tubuh ayahmu yang lenyap setelah melakukan perjanjian untuk membelenggu Corffin,'' jelas Panini masih dengan wajah kusutnya.

Franky sangat terkejut mendengar penjelasan dari Tn. Panini. Terutama ketika mengetahui kenyataan itu dari mulut sahabat kedua orangtuanya. Sahabat yang malah lebih memilih mendengarkan cerita ibunya meski ia tau wanita tersebut dalam keadaan sekarat daripada berusaha membopongnya menuju -sesuatu yang disebut sebagai- para penyembuh yang pastinya akan jauh lebih membantu.

Lagipula bukankah Tn. Panini bisa menunggu hingga ibu Franky baikan untuk mendengar ceritanya. Sekejap raut wajah Franky memerah menyiratkan kemarahan. Seolah-olah lelaki yang duduk didepannya tersebut ikut bertanggung jawab atas kematian ibunya.

''Anda sungguh melakukannya?'' tanya Franky dengan nada yang tinggi. ''Membiarkan wanita sekarat bercerita didepan mata anda..!'' kini Franky mulai berteriak.

''Sungguh aku tak ingin membiarkannya.''

''Seandainya kau tau keadaan saat...''

''Maka beri tau aku!!'' bentak Franky. ''Bukankah anda sahabatnya? Jika ayahku saja berani mengorbankan nyawanya demi dunia ini, kenapa anda tidak?''

''Anda hanya perlu mengorbankan sedikit tenaga anda untuk membawa tubuh ibu kepada mereka, para penyembuh -atau apalah itu sebutannya,'' teriakan Franky semakin menjadi. ''Apa itu terlalu berat?''

''CUKUP,'' bentak Tn. Panini yang telah berdiri. ''Cukup Franky!!''

''Aku juga telah mencobanya,'' kata Tn. Panini yang sudah sedikit lebih tenang. ''Jika saja ibumu tidak bersikeras menggunakan Crowd-nya untuk mengikat tubuhnya dengan tanah, aku pasti juga sudah membawanya kepada para penyembuh,'' jelas Tn. Panini sambil berusaha kembali duduk.

Keduanya terdiam. Masih terlihat sisa-sisa kemarahan diwajah Franky, namun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut pemuda itu. Tn. Panini juga sama, pria itu sedang berusaha menata ketenangannya kembali. Kemudian waktu pun terasa begitu lambat. Sampai pada akhirnya sebuah suara memecahkan lamunan Franky dan Tn. Panini.

''Maaf jika kurang sopan tapi ada sesuatu yang ingin kami sampaikan padamu, Tn. Panini!'' kata seorang pria berwajah pucat yang telah berdiri di depan pintu ruangan.

''Ada apa, Neo?'' tanya Tn. Panini.

''Seorang anak dari keluarga Dolareon ditemukan tewas di perbatasan desa bagian utara dalam keadaan tidak wajar,'' jawab pria itu datar.

''Bisa kau pastikan penyebabnya?'' tanya Tn. Panini sambil berdiri dan mencoba membenarkan topinya.

''Kemungkinan ini ulah sekumpulan wigorr,'' jawab pria itu.

''Baiklah, kita bicarakan masalah ini dikantorku. Kau boleh keluar, Neo!'' perintah Tn. Panini yang disambut dengan langkah kaki pria bermuka pucat menuju pintu keluar.

''Franky, kita sambung pembicaraan kita lain waktu,'' kata Tn. Panini. ''Aku akan meminta Amie untuk mengantarmu ke makam besok,'' lanjutnya.

''Apa aku boleh tinggal disini?'' tanya Franky lirih. ''untuk beberapa waktu.''

''Ya, tentu saja,'' sahut Tn. Panini mengiyakan. ''Kau boleh tinggal dirumah ini selama yang kau mau. Lagipula secara teknis, ini adalah rumahmu sekarang.''

''Jika kau butuh sesuatu, panggil saja twigigt,'' tambah Tn. Panini sebelum berbelok ke pintu keluar.

Tepat sebelum menghilang dalam belokan, Tn. Panini tersenyum dan berkata pada Franky. ''Kau benar-benar mirip William waktu muda.''

Setelah Tn. Panini pergi, rumah itu kembali pada kebiasaan lamanya. Sunyi dan dingin. Tubuh Franky duduk dengan lesu diatas kursi baca milik ayahnya. Pikirannya melayang, mencoba mengulang kejadian hari ini. Kilasan-kilasan gambar dari mimpinya masih sesekali terlintas di mata pemuda itu. Dan ketika bagian dimana wajah pria berjubah hitam itu terlintas dikepalanya,  Franky merasa mual dan jijik,

Jauh di benak Franky, sebenarnya ia sedikit menyesal telah membentak Tn. Panini. Mungkin dia memang telah berusaha keras membujuk ibunya saat itu. Kemudian pikiran Franky melayang lebih jauh lalu berputar. Dan tak terasa pemuda itu telah terlelap, meski matahai di luar baru berada tepat diatas ubun-ubun. Suasana ruangan yang tenang dan dingin serta nyamannya kursi baca yang diduduki Franky, membuat pemuda berambut perak itu mengistirahatkan tubuh serta pikirannya sejenak.

***

Read More...
gravatar

Pahlawan Eteos (7)

''Palsu? Oh jadi maksudmu ada orang iseng yang kebetulan mengetahui kisah orangtuaku dan kemudian menulis surat tersebut untuk kesenangan pribadinya..begitu hah? Ini terdengar seperti lelucon..!!'' Seru Franky kesal. Pemuda itu merasa ada yang disembunyikan oleh Panini.

''Bukan. Mungkin ada seseorang yang ingin menjebakmu''. Panini tampak serius dengan ucapannya kali ini.

''Menjebakku? Kau pikir aku ini siapa? Pangeran? Anak terpilih? Aku tidak lebih dari seorang anak biasa dan berasal dari keluarga yang tidak jelas..'' Teriak Franky. Kini pemuda itu benar-benar berada dipuncak kekesalannya. Rasa penasaran ditambah kemuakannya terhadap sikap bertele-tele Panini dalam memaparkan kenyataan yang ada kini bercampur menjadi satu dalam hati pemuda tersebut.

Panini sendiri yang sedari tadi mencoba menanggapi Franky dengan tenang pun menjadi terpancing emosinya dan secara tak sadar ia berkata dengan nada yang tinggi,''Kau pikir begitu?! Asal kau tahu Franky kau itu anak dari pasangan paling berpengaruh terhadap kedamaian dunia ini. Puan Dwi Asyarah, ibumu. Dia adalah puteri Afromesia. Melalui kekuatan Crowd-nya, ia melindungi dunia ini. Lalu ayahmu, William Hegarty. Dia adalah seorang pejuang Meyrald yang berani mengorbankan nyawanya demi dapat mengurung makhluk paling gelap sejagad raya. Kau itu lebih dari seorang anak BIASA..!!''

Mendengar perkataan Panini, Franky hanya tercengang. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Kenyataan yang baru saja terlontarkan membuat misteri kepergian ayahnya selama sebelas tahun sedikit terkuak. Meski selama ini Franky selalu menegaskan bahwa ayahnya pergi ke Inggris, namun sebagian kecil dalam dirinya sebenarnya menyanksikan hal tersebut. Itulah alasan mengapa dirinya mau pergi mengikuti peta pada surat ayahnya tempo hari.

''Maaf'' Panini menghela nafas,''Perang Eteos adalah perang besar yang terjadi sepuluh tahun silam. Perang itu melibatkan lima kerajaan besar di Afromesia melawan kegelapan. Orangtuamu terpilih sebagai komandan tertinggi mewakili kerjaan Meyrald. Mereka bertarung gagah berani sehingga kami pun berhasil mendesak para pasukan kegelapan. Namun ditengah pertempuran, kedua orangtuamu bertemu dengan kegelapan yang sesungguhnya. Meskipun mereka sangat hebat namun masih belum dapat menandingi kekuatan kegelapan itu...''

''Corffin..'' potong Franky yang tampaknya menemukan sesuatu dalam pikirannya.

''Hah?!''

''Corffin.. Pria berjubah hitam dengan mata merah menyala. Dia adalah kegelapan itu, benar kan?!'' Kata Franky.

''I..iya, benar.'' Panini mengangguk pelan,''Tapi bagaimana kau bisa tahu?''

''Beberapa hari ini aku selalu bermimpi tentang kejadian itu. Dalam mimpiku, aku melihat ibu tersungkur tak berdaya. Ayah terluka sangat parah. Diantara mereka, berdiri seorang pria berjubah hitam, bermata merah, dan memiliki hawa dingin yang menusuk tulang. Pria itu ingin membunuh ayah..'' jelas Franky lirih.

''Namanya Digranithus Sintra Eksavalla Corffin. Dia adalah bangsawan Allf yang terikat dengan kekuatan kegelapan. Dialah pencetus terjadinya perang Eteos. Mungkin yang kau lihat itu bukanlah mimpi Franky. Mungkin itu adalah gambaran masa lalu''.

''Gambaran masa lalu ya..?'' Franky menghela nafas panjang.''Hmm..kupikir dengan pergi kesini aku dapat bertemu ayah, ternyata tidak ya. Tapi jika memang kenyataannya seperti apa yang kau bicarakan Tuan Panini, dapatkah aku mengunjungi makam orangtuaku''.

''Tentu, tentu saja. Biar Amie yang akan mengantarmu besok'' Jawab Panini.

''Terima kasih''. Ucap Franky singkat. Banyak hal baru yang pemuda itu dengar hari ini. Dan semua hal tersebut kini dengan sempurna memenuhi otaknya. Khasiat dari teh phidelya yang ia minum di penginapan Jonathan pun tampaknya telah hilang tak berbekas. Namun tiba-tiba Franky teringat sesuatu.

''Tuan Panini, bukankah tadi kau bilang surat dari ayahku adalah jebakan? Kalau itu memang benar jebakan, apa kira-kira maksud tujuannya?''

''Sebenarnya aku juga tidak begitu yakin, tapi menurutku tujuannya adalah agar bisa mendapatkan darahmu'' Panini mengucapkannya dengan nada yang serius.

''Darahku? Untuk apa?''

''Seperti yang sudah aku katakan tadi bahwa ayahmu mengorbankan nyawanya untuk membelenggu Corffin. Tubuh serta kekuatan Corffin terbelenggu dalam sebuah pedang Afromesia yang legendaris. Kemungkinan saat ini para pengikut Corffin mencoba membebaskan tuannya tersebut menggunakan darahmu'' Jelas Panini.

''Aku mengerti sekarang, ayahku kemungkinan melakukan suatu perjanjian menggunakan darahnya untuk mengurung Corffin. Dan karena aku adalah satu-satunya yang tersisa dari darah keturunan ayah, maka akulah yang diincar. Mereka mengincar darahku untuk membalikkan proses perjanjiannya sehingga Corffin dapat dibebaskan'' Franky mulai menganalisa.

''Yah, aku juga berpikir begitu''.

''Tapi mengapa harus repot-repot membawaku kesini, bukankah lebih mudah melakukannya di dunia ku?'' tanya Franky.

''Kalau soal itu pastilah disebabkan oleh keistimewaan gerbang Kingswood. Perancangnya membuat gerbang tersebut hanya bisa dilewati oleh mereka yang berhati bersih..'' Jelas Panini dengan yakinnya.

''Begitu ya..?! Jadi sebaiknya aku harus kembali ke duniaku agar mereka tidak dapat mengambil darahku. Benar kan?!'' kata Franky menyimpulkan.

''Yah, benar. Tapi selama kau masih disini, aku menjamin kau aman. Jadi kau boleh menginap selama yang kau mau''.

''Aku juga tidak ingin pergi sebelum mengunjungi makam ayah dan ibu. Dan jika benar makam itu ada, berarti makam ibu yang ada dijogja adalah palsu''.

"Begini Franky, sebenarnya yang disini hanya ada makam ibumu." kata Panini tiba-tiba

"Hanya makam ibu? Tapi kau bilang tadi..."

Read More...

Cuap-cuap

Entri Populer

The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku