Archives

gravatar

Kisah Hachiko


Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.

Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.

Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.

Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.

Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.

Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.

Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).

Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.

Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.

Read More...
gravatar

Gerbang Kingswood(8) akhir

(lanjutan..)

''Apa maksudmu? Bersiap untuk ap..'' tanya Franky yang tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena bersamaan dengan tertutupnya kembali Gerbang, tempat yang dipenuhi dengan cahaya putih itu terasa merosot seperti lift yang bergerak turun namun dengan kecepatan kilat.


Franky yang memang belum pernah mengalami kejadian tersebut hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya sambil terus memegangi lengan Amie kuat kuat. Dan beberapa detik kemudian secara tiba-tiba tempat tersebut berhenti bergerak, membuat Franky jatuh tersungkur dilantai. Kepalanya terasa sangat pusing, dan perutnya pun menjadi mual, ditambah lagi kedua kakinya yang kini tak henti-hentinya gemetaran membuat pemuda itu kesulitan saat mencoba berdiri.

Akhirnya dengan bantuan Amie, Franky dapat berdiri meski masih terasa berat. Di depan mereka berdua kemudian muncul Gerbang Kingswood lagi yang sedikit demi sedikit mulai terbuka. Amie lalu berjalan menyebrangi gerbang sambil memapah Franky yang kini mulai terlihat kehilangan kesadarannya. Saat sampai dibalik gerbang, ia melihat sekerumunan orang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Mereka terlihat begitu riang, ada yang tersenyum dan ada pula yang tertawa hingga terbahak-bahak. Di tengah kerumunan tersebut mendekatlah seorang pria yang tampak gagah berwibawa dengan setelan taksido yang dipakainya. Rambut yang disisir kebelakang dan di tutup dengan topi, serta kumis yang cukup tebal menambah khasnya seorang Gusettav Yufanocca Panini, pemimpin desa tempat Gerbang Kingswood tersebut berdiri.

''oh, pengalaman pertama menyebrangi gerbang Kingswood pasti..hmm mengasyikkan bukan? Aku juga pernah mengalaminya.'' kata pria tersebut sebagi ucapan penyambutan.

''Selamat datang kembali Amie dan... kau pasti Frank ya?'' lanjut pria itu.

Franky hanya mengangguk lemas mendengar pertanyaan tersebut.

''Sudah ku duga, kau begitu mirip dengan ayahmu. Oh iya, selamat datang Frank. Sepertinya kau butuh istirahat.'' kata pria yang lebih suka dipanggil dengan nama Panini tersebut.

Kemudian Tuan Panini menyuruh dua orang menggantikan Amie memapah Franky lalu mengantarkannya ke penginapan. Dan ketika mereka akan keluar meninggalkan ruangan itu, tuan Panini berkata,

''Satu hal lagi tuan Frank Hegarty..''

''..selamat datang di Afromesia..''

***


Bab.1 Gerbang Kingswood selesai





^____^

Terima kasih semua atas dukungannya selama ini..
:)

Read More...
gravatar

Gerbang Kingswood(8)

Hari itu akan menjadi salah satu hari yang tidak bakal dilupakan oleh Franky. Dimulai dengan keributan diruang makan antara nenek Franky dengan kucing kesayangannya, Embey yang membuat dirinya harus menyudahi tidurnya lebih awal. Dilanjutkan dengan datangnya surat dari ayah Franky yang berisi penuh dengan misteri dan teka-teki yang membawanya menemui seorang lelaki tua bernama Ngadirjo dan segala keanehannya, lalu juga mengetahui bahwa dirinya bukanlah dari golongan manusia--meskipun belum mendapat penjelasan secara detail--ditambah lagi munculnya seorang perempuan bernama Amie Lawings secara tiba-tiba dihadapan Franky membuat hari itu menjadi hari ulang tahunnya yang akan selalu diingat.


Satu jam sebelum tengah malam tiba, Franky, Amie, dan Ngadirjo mulai mempercepat langkahnya. Suasana saat itu cukup lengang. Hanya tinggal segelintir orang yang masih bertahan dengan kesibukannya masing-masing. Ketika sampai pada salah satu dinding penyangga jembatan layang, langkah mereka bertiga berhenti. Ngadirjo lalu merogoh saku dalam bajunya. Tampak ia sedang mencoba mengambil sesuatu dari sakunya. Sesaat kemudian tangan Ngadirjo keluar bersama sebuah jam pasir kecil. Ia menatap jam tersebut dalam dalam seolah ada sebuah kenangan dibaliknya sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke arah Amie dan Franky.

''waktu kalian hanya satu menit, mengerti..!!'' kata Ngadirjo tiba-tiba.

Franky yang masih tidak mengerti arti kata-kata Ngadirjo memilih diam. Pemuda ini mulai terbiasa untuk tidak mengajukan pertanyaan karna ia tahu pasti jawaban yang akan diberikan ke dua orang yang berada di sampingnya tersebut.

Melihat Amie menganggukkan kepala tanda mengerti, Ngadirjo kemudian mengangkat jam pasir tersebut setinggi kepalanya. Lalu ia melepaskan genggamannya. Sesaat Franky mengira jam tersebut akan jatuh ketika Ngadirjo melepaskan genggamannya. Namun ternyata tidak, jam tersebut tetap pada posisinya tak bergerak sedikitpun. Kejadian itu membuat Franky merasa kaget sekaligus kagum. Kini pemuda itu mulai benar benar percaya bahwa kedua manusia yang ada disampingnya tersebut bukanlah manusia biasa.

''kalian siap?'' tanya Ngadirjo setelah menarik nafas panjang kepada Amie dan Franky.

Keduanya mengangguk pelan namun cukup memberi keyakinan pada Ngadirjo untuk melakukan hal--yang entah itu apa--yang sebenarnya baru pertama kali ia lakukan.

''Tutup mata kalian!'' perintah Ngadirjo kepada Amie dan Franky.

Setelah keduanya menutup mata, jari jari tua Ngadirjo mulai mendorong perlahan lahan jam pasir miliknya yang telah melayang layang diantara mereka bertiga hingga terbalik dan membuat pasir dalam jam tersebut sedikit demi sedikit turun ke ruang di bawahnya. Ia lalu memperhatikan situasi disekelilingnya sebelum kemudian menyuruh Amie dan Franky membuka mata mereka kembali.

Tak ada yang berubah selain jam pasir yang kini terbalik ketika Franky membuka matanya. Namun ia kemudian sadar dengan keanehan di sekitarnya. Semua berhenti, semua diam, semua tak bergerak. Inilah keanehan yang paling membuat pemuda itu sangat kagum dari semua keanehan yang dilihatnya sepanjang hari itu. Franky juga menjadi mengerti bahwa jam pasir tersebut adalah alat penghenti waktu. Tapi kemudian timbul pertanyaan dalam diri Franky tentang apa yang mereka sembunyikan hingga sebegitu rahasianya hal tersebut.

Tiba tiba Ngadirjo berkata,''letakkan telapak tangan kalian ke dinding ini..!'' sambil meletakkan telapak tangannya sendiri ke dinding penyangga jembatan layang didepannya.

Saat Amie dan Franky melakukan hal yang disuruhnya, Ngadirjo lalu melanjutkan kata katanya dengan suara lantang dan setengah berteriak.

''Aku Ngadirjo Jaya Sasmitro, generasi ketujuh para Penghubung meminta izin untuk mengantarkan para Pendatang masuk ke dalam Afromesia. Sepenuhnya tiada niat jahat dari diri kami, maka terbukalah Gerbang Kingswood..!!''

Tak ada respon apa apa. Tapi Ngadirjo tetap terlihat berkonsentrasi penuh. Tak lama kemudian beberapa sinar kuning muncul dari ujung ujung jari tangan Ngadirjo, Amie, dan Franky. Sinar tersebut lalu bergerak membuat garis pada dinding penyangga. Seperti sedang melukis sesuatu, sinar tersebut terus meliuk liuk mengukir dinding yang ada didepan mereka bertiga. Dan lagi lagi Franky melihatnya dengan penuh kekaguman.

Beberapa saat kemudian sinar sinar tersebut berhenti bergerak dan mulai redup meninggalkan sebuah ukiran relief berbentuk seperti pintu yang besar dengan gambar didalamnya seekor burung hantu dan elang yang sedang bertengger gagah disebuah pohon yang berbeda. Dan betapa terkejutnya Franky setelah mengamati ternyata ukiran tersebut memang membentuk sebuah pintu gerbang yang besar, dan terlihat kokoh meski terbuat dari kayu. Sungguh keajaiban yang tak terbayangkan Franky sebelumnya.

''Inikah Gerbang Kingswood itu?'' tanya Franky tiba tiba.

''Ya. Inilah Gerbang Kingswood. Ayo kita masuk..!'' jawab Amie sambil mengajak Franky untuk masuk ke dalam gerbang.

Suara dernyit pintu kayu yang terbuka mengiringi langkah Amie dan Franky memasuki pintu gerbang tersebut. Ucapan terima kasih dan selamat tinggal pun mengalir dari bibir keduanya untuk Ngadirjo yang telah mengantarkan mereka. Dan ketika keduanya telah berada dibalik gerbang, yang tampak oleh Franky hanyalah hamparan cahaya putih yang menutupi seluruh ruangan itu.

''Inikah Afromesia?'' kata Franky dalam hati.

''Mulailah bersiap siap Franky, dan hati-hati dengan perutmu..'' kata Amie tiba-tiba memecah lamunan Franky.

(bersambung..)

Read More...
gravatar

Albert Einstein


Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola.

Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.

Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika. Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari Munich ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.

Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.

Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negara Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.

Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss pada tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.

Einstein menikahi Mileva, seorang matematikawan pada 6 Januari 1903. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.

Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian, efek fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.

Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein di tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.

Di artikel pertamanya di tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.

Read More...
gravatar

Konayuki

Nah..lagu keren yang satu ini berasal dari Negeri Matahari terbit yang berjudul Konayuki, soundtrack dari film One liter of tears.


**

Konayuki mau kisetsu wa itsumo sure chigai

Hitogomi ni magirete mo onaji sora miteru no ni

Kaze ni fukarete nita you ni kogoeru no ni

Boku wa kimi no subete nado shitte wa inai darou

Soredemo ichi oku nin kara kimi wo mitsuketa yo

Konkyo wa naikedo honki de omotterunda

Sasaina ii aimo nakute

Onaji jikan wo ikite nado ike nai

Sunao ni nare nai nara

Yorokobi mo kanashimi mo munashii dake

Konayuki nee kokoro made shiroku somerareta nara

Futari no kodoku wo wake au koto ga dekita no kai

Boku wa kimi no kokoro ni mimi wo oshi atete

Sono koe no suru hou he sutto fukaku made

Orite yukitai soko de mou ichi do aou

Wakari aitai nante

Uwabe wo nadete itano wa boku no hou

Kimi no kajikanda te mo nigirishimeru

Koto dakede tsunagatteta no ni

Konayuki nee eien wo mae ni amari ni moroku

Zara tsuku asufaruto no ue shimi ni natte yuku yo

Konayuki nee toki ni tayori naku kokoro wa yureru

Soredemo boku wa kimi no koto mamori tsuduketai

Konayuki nee kokoro made shiroku somerareta nara

Futari no kodoku wo tsutsunde sora ni kaesu kara

***

Ini artinya dalam bahasa Inggris :

I may not know everything about you

Nevertheless, I've found you among 100 million of people

There's no proof but I'm very serious of it

It's impossible to live in the same time with no single quarrel

If we can't be honest, happiness and sadness are just meaningless

If the snow powder may whiten deep to our heart

Could we both share our loneliness?

I would press my ear near to your heart

And go down deep into the place where I hear that voice and meet you once again

We want to understand each other

It's me who softly brush the surface

Just by tightly gripping your numb and cold hand

We are tied to each other

Snow powder is too fragile

In front of us, keep on leaving stains on the rough asphalt forever

Snow powder doesnot rely on time, moving our heart

Nevertheless, I'd still like to keep on protecting you

If the snow powder may whiten deep to our heart

It will cover both our loneliness and return it to the sky

***

Keren kan...

::: Remioromen - Konayuki :::

Read More...
gravatar

Sebuah api cinta




Jika cinta ini masih sulit untuk kamu cerna, maka jangan dulu kamu cerna cinta ini..

Cukup kamu tahu cinta ini ada dan masih berkobar membara..

Cukup dengan menyisihkan sebuah ruang kecil yang berada disisi tergelap hatimu untuk cinta ini berdiam..

Selanjutnya biarlah aku yang akan berusaha membuat ruang itu terang benderang dengan api cinta ini..

Sehingga kamu dapat melihat ku dan mengerti akan cinta ini..

**

Tetapi jika memang kamu telah menemukan pangeranmu..

Dimana itu bukanlah aku..

Maka tunjukanlah jalan keluar dari ruang itu..

Dan aku minta untuk tetap kamu simpan api cinta ini..

Agar tidak ada lagi ruang hatimu yang terselimuti kegelapan sunyi..

***

Read More...
gravatar

Arti Suka, Sayang, dan Cinta itu berbeda..!!



Suka adalah saat kamu ingin memiliki seseorang

Sayang adalah saat kamu ingin membahagiakan orang itu

Cinta adalah saat kamu akan berkorban utk orang itu


Saat kamu bersedih dan menangis maka seseorang yg menyukaimu akan berkata sudahlah jangan menangis lagi

Tapi seseorang yang menyayangimu akan diam dan ikut menangis

Dan seseorang yg mencintaimu akan membiarkanmu menangis dan menunggumu hingga tenang lalu berkata mari kita selesaikan ini bersama


Saat seseorang yang menyukaimu berada disampingmu maka dia akan bertanya bolehkah aku menciumu

Tapi seseorang yang menyayangimu akan berkata biarkan aku memelukmu

Dan orang yang mencintaimu tidak akan berbicara, dia hanya akan selalu memegang erat tanganmu seakan dia tidak mau membiarkanmu terjatuh


Saat kamu menyukai seseorang dan orang itu menyakitimu maka kamu akan marah dan tidak mau lagi berbicara dengannya

Tapi jika kamu menyayangi seseorang dan orang itu menyakitimu maka kamu akan menangis karenanya

Dan jika kamu mencintai seseorang dan orang itu menyakitimu maka kamu akan tersenyum walau terasa pahit dan berkata dia hanya belum tahu yang ia lakukan


Suka hanyalah keegoisan diri sendiri

Sayang adalah tentang memberi dan menerima

Dan cinta adalah rela berkorban


Suka hanya akan berbuat jika itu menyenangkan

Sayang berbuat karena ingin selalu ada untuknya

Dan cinta berbuat karena tidak ingin membuatnya terluka tidak peduli bagaimana keadaan kita

***


#Dikutip dari sebuah artikel seorang teman pada situs jejaring pertemanan Facebook...
-hann firmansyah-
:]

Read More...
gravatar

Lirik Hingga Ujung Waktu - Sheila On 7





Serapuh kelopak sang mawar yang disapa badai, berselimutkan gontai..

Saat aku..
menahan sendiri diterpa dan luka oleh senja..

Semegah sang mawar dijaga, matahari pagi bermahkotakan embun..

Saat engkau berada disini dan peka ku berakhir sudah..

Akhirnya ku menemukan mu..

Saat ku bergelut dengan waktu..

Beruntung aku menemukanmu..

Jangan pernah berhenti memiliki ku..

Hingga ujung waktu..

...

Setenang hamparan samudera, dan tuan burung camar tak kan henti bernyanyi..

Saat aku berkhayal dengan mu, dan janji pun terukir sudah..

Jika kau menjadi istriku nanti, pahami aku saat menangis..

Saat kau menjadi istriku nanti, jangan pernah berhenti memiliki ku..

Hingga ujung waktu..


*Sheila On 7 - Hingga Ujung Waktu*
Merupakan sebuah tembang yang mengingatkan ku saat kecil dulu..(jamannya waktu aku masih SD ma SMP)

Read More...
gravatar

Gerbang Kingswood(7)

Senja akhirnya menampakkan batang hidungnya, memaksa matahari untuk segera beranjak pergi bersama cahaya terangnya. Sang bulan sendiri terlihat begitu antusias menanggapi kepergian matahari karena kini tinggalah ia seorang diri yang akan menemani senja menuju indahnya malam. Kegelapan sedikit demi sedikit berjalan menyelimuti daerah itu. Di sebuah gang kecil di dekat jembatan layang berdirilah dua sosok yang saling berhadapan. Seorang pemuda berambut perak dan seorang pria tua yang bongkok. Keduanya tidak saling bicara, mereka tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.


''Kau bilang aku bukan dari golongan manusia?'' tanya Franky tiba-tiba memecah kesunyian.


Ngadirjo, pria tua bongkok yang berdiri dihadapan Franky tersebut tidak langsung menjawab. Ia melihat kekanan dan kekiri dengan seksama seperti tidak memperbolehkan ada yang tahu tentang percakapan ini.

''Ya, matamu itu.. Itu bukan mata seorang manusia..'' jawab Ngadirjo

''Lalu aku ini apa kalau bukan dari golongan manusia?'' tanya Franky cepat.

''Kau ini..termasuk salah satu dari mereka yang memberi kelebihan usia secara turun temurun pada keluarga kami sebagai imbalan atas pekerjaan kami, seorang Penghubung. Kau adalah keturunan...'' jelas Ngadirjo panjang lebar. Namun sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara terdengar.

''Bangsa Allf.'' kata suara yang berasal dari arah samping tempat Franky berdiri.

Mata Franky dan Ngadirjo pun segera menuju arah asal suara, namun tidak terlihat ada seseorang di tempat itu. Franky yang bingung dengan situasi tersebut segera melemparkan pandangannya ke berbagai arah tapi lagi lagi tidak ada satu makhluk pun yang tampak di dekatnya. Sementara raut wajah Ngadirjo yang tadinya terlihat terkejut kini sudah kembali seperti semula meski memang harus diakui perubahan raut wajahnya tak begitu terlihat.

''Tunjukkan dirimu Amie, anak bodoh ini tidak bisa melihatmu..!'' seru Ngadirjo tiba-tiba.

''Baiklah..''

Lalu kemudian bersamaan dengan terdengarnya suara tersebut muncul--sedikit demi sedikit--sesosok perempuan seumuran Franky tepat di sampingnya. Franky pun terperanga melihat cara kemunculan perempuan itu, terlebih lagi ketika ia melihat wajah perempuan tersebut yang benar-benar melukiskan kecantikan seorang wanita. Namun segera ia sembunyikan semua rasa itu dan mencoba menenangkan kembali fikirannya serta bersikap sewajarnya.

''Si..siapa kau?'' tanya Franky pada perempuan disampingnya.

''Kau pasti Frank Hegarty. Aku Amie Lawings, salam kenal.'' jawab Amie dengan suara lembut dan senyum ramah-tamahnya yang terasa begitu menenangkan.

''Eh iya salam kenal juga, tapi...bagaimana kau bisa tahu namaku...Amie?'' kata Franky yang menyadari dirinya ternyata terpesona dengan sosok perempuan berambut pendek yang berdiri disampingnya itu.

''Aku kenal dengan ayahmu, Pak Hegarty. Beliau sering bercerita tentang dirimu.'' jawab Amie.

''Begitu ya..'' kata Franky.

''O iya, tadi kau mengatakan aku ini Bangsa Allf. Apa itu bangsa Allf?'' tanya Franky melanjutkan topik pembicaraan yang sempat teralihkan tadi.

Sebelum Amie sempat menggerakkan bibirnya untuk menjawab, Ngadirjo segera memotong pembicaraan mereka berdua.

''Mungkin sebaiknya aku menyiapkan hidangan untuk menemani pembicaraan kalian agar terasa lebih nyaman sambil menunggu tengah malam tiba yang berarti gerbang Kingswood telah berpindah tempat dan kalian ketinggalan..'' ucap Ngadirjo dingin dengan mata yang telah kembali menampakkan sorot tajamnya kepada Franky dan Amie.

''Oh, kau benar Pak. Dirjo. Maafkan aku. Kita sebaiknya bergegas Frank sebelum gerbang Kingswood berpindah tempat tepat tengah malam nanti.'' kata Amie

''Tapi..'' sahut Franky yang dengan cepat dipotong oleh Amie.

''Maaf Frank. Aku tahu kamu masih kebingungan dengan situasi ini, aku akan menjelaskan semuanya tapi nanti setelah kita tiba di Desa Green Way.'' jelas Amie.

''Kita?''

''Bukankah kamu ingin menemui ayahmu?'' tanya Amie sebagai balasan atas pertanyaan Franky

''Jadi ayahku ada di Desa Green Way?'' tanya Franky.

''Nanti aku jelaskan..'' jawab Amie yang kemudian segera berjalan mengejar Ngadirjo yang telah berada sedikit jauh didepan.

Tentu saja jawaban teman barunya itu tidak memuaskan hati Franky, namun kini tidak ada pilihan lain selain mengikuti mereka sambil berharap semua ini dapat dijelaskan lebih cepat.

***

Read More...
gravatar

Gerbang Kingswood(6)

Suara laju kereta api yang berisik terdengar sangat jelas di telinga Franky. Memang dibawah jembatan layang tersebut terdapat sebuah rel perlintasan kereta api yang setiap lima belas menit sekali dilintasi kereta api. Namun hal tersebut tidak benar-benar mengganggu Franky karena fikirannya saat ini sedang terfokuskan oleh pria tua yang berjalan di depannya. Sambil terus saja menggerutu tidak jelas dan sesekali matanya yang besar melirik dengan waspada kekanan dan kekiri, pria tua tersebut berjalan menuju ke suatu tempat entah kemana. Franky yang berjalan--sambil menuntun sepedanya--dibelakang pria tersebut sengaja menjaga jarak karena ia merasa pria tersebut terlalu aneh, bahkan dapat dikategorikan sebagai orang gila. Lalu tiba-tiba pria tersebut menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik kearah Franky.

''Mulailah dari sini..!!'' kata Ngadirjo sambil terus melihat kanan kiri dengan penuh waspada.

''Cepatlah..sebelum ada manusia yang melihatnya..!!'' imbuhnya seraya melirik dengan sorotan mata yang tajam kearah Franky.

''Mulai apa..?'' tanya Franky yang tampak kebingungan terhadap situasi yang berada dihadapannya. Ia bahkan tidak mengerti sedikitpun arah pembicaraan pria tua bongkok yang mengaku bernama Ngadirjo ini.

''Tentu saja mulailah menghilang dasar anak bodoh..'' jawab Ngadirjo tidak sabar.

''Menghilang? Tapi bagaimana? Dan untuk apa?'' tanya Franky semakin tidak mengerti.

''Jangan katakan bahwa kau tidak dapat menyamarkan dirimu dari manusia. Sebenarnya apa yang sudah diajarkan ke dua orangtuamu, bocah..? Percuma mereka dijuluki Pasangan jenius diantara kaum mu'' sahut Ngadirjo sambil menggerutu.

''Aku memang benar benar tidak mengerti'' kata Franky.

''Wedhus prengus..!!'' umpat Ngadirjo melihat kenyataan bahwa pemuda yang ada di depannya tersebut memang tidak mengerti sedikit pun tentang apa yang ia bicarakan.

''Jadi kau memang tidak mengetahui tentang peraturan ini bocah?'' tanya Ngadirjo

Franky hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mengetahui.

''Bagaimana dengan Gerbang Kingswood atau Pulau Afromesia, kau pasti pernah mendengarnya?'' tanya Ngadirjo penasaran

Franky kembali menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Nadirjo.

''Hah..makhluk bodoh macam apa yang ada dihadapanku ini sebenarnya..wedhus prengus..!!'' gerutu Ngadirjo

''Katakan padaku seberapa jauh kau mengenal bangsamu itu..'' lanjut Ngadirjo

'' Apa maksudmu dengan bangsaku?'' tanya Franky

Sambil menghela napas panjang, Nadirjo berkata,'' kau sungguh parah bocah. Bahkan kau tidak tahu bahwa kau ini bukan manusia, setidaknya setengah dari dirimu bukan dari golongan kami manusia.''

''APA...???'' teriak Franky begitu saja setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut si tua Ngadirjo.

***

Read More...

Cuap-cuap

Entri Populer

The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku