Archives

gravatar

where is the phone ? (end)

Setelah semua murid kembali ke kelas masing-masing, tak lama kemudian guru datang dan pelajaran pun dimulai. Arsyad tidak begitu mendengarkan pelajaran yang diterangkan guru saat itu, matanya terus saja menatap keluar kelas. Pemuda itu terus saja memandangi pintu kantor guru yang berada diseberang kelasnya. Tampaknya Arsyad sedang menunggu seseorang, Listya tepatnya. Sekitar 10 menit kemudian, Listya terlihat keluar dari kantor guru dan mulai berjalan menuju kelasnya. Arsyad yang sepertinya sudah menunggu kesempatan tersebut pun segera bergegas keluar dari kelas dengan beralasan ingin ke kamar mandi. Ia lalu menghampiri Listya.


''Aku sudah tau pelakunya,'' ucap Arsyad.

''Benarkah??'' seru Listya dengan wajah yang berseri.

''Ya. Tidak hanya itu, sepertinya aku juga sudah tau dimana handphonemu berada,'' jawab Arsyad.

''Sungguh?! Dimana kalau boleh tau, Syad?''

''Masih di dalam kelas,'' kata Arsyad singkat.

''Tapi bukankah OSIS sudah memeriksa semua tas dan laci meja?'' tanya Listya.

Arsyad hanya tersenyum. ''Sepulang sekolah nanti, temui aku di depan gerbang sekolah. Kita tangkap pelakunya berdua,'' lanjutnya masih dengan tersenyum.

Keduanya kemudian berpisah dan kembali kekelas masing-masing. Sisa siang itu pun terasa sangat cepat bagi Arsyad.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, Arsyad segera bergegas pergi ke gerbang sekolah. Rama yang tadi sempat melihat pertemuan Arsyad dengan Listya, mencoba mengejar Arsyad. Di depan gerbang, Rama akhirnya berhasil mengejar Arsyad.

''hei, ke..kenapa buru-buru sih?'' tanya Rama yang masih sedikit terengah-engah.

''Gak apa-apa, kok'' jawab Arsyad.

''Oiya, kau dan Tia tadi ngomongin apaan?'' tanya Rama.

''Aku cuma memberitahu dia kalau aku sudah tahu siapa pelakunya, dan kami berencana menangkapnya setelah pulang sekolah,'' jelas Arsyad.

''Benarkah? Kau sudah tau? Siapa, Sad? Gilbert kan? Pasti dia, kan?'' seru Rama yang tampaknya sangat yakin pelakunya adalah Gilbert.

''Sayangnya bukan. Bukan Gilbert pelakunya,'' ucap Arsyad singkat.

''Lalu siapa?'' tanya Listya yang ternyata telah berdiri dibelakang Arsyad dan Rama.

''Kau sudah datang, ya. Kalau begitu kita tunggu sampai sekolah agak sepi..!'' kata Arsyad.

Lima belas menit kemudian, sekolah telah tampak sepi. Rama yang sudah tidak sabar menunggu, bertanya pada Arsyad. ''Berapa lama lagi kita harus menunggu, Syad?''

''Sepertinya sudah cukup. Ayo ke kelasmu, Tya!'' ajak Arsyad. ''Sebenarnya kuncinya adalah sesuatu yang ada disekitar resleting tas milikmu. Kau merasakannya tidak, Tya?'' Arsyad mulai menjelaskan.

''Umm, disekitar resleting tas ya?'' Listya tampak mengingat-ingat sesuatu. ''Lengket. Iya, lengket. Waktu aku mau buka tas ku, terasa agak lengket disekitar resletingnya'' kata Listya kemudian.

''Ya, kemungkinan sebelum pelakunya mengambil Handphone, dia sedang melakukan aktivitas yang berhubungan dengan lem atau semacamnya sehingga sisa-sisa lem yang ada di jari pelaku sempat menempel disekitar resleting saat si pelaku mencoba membuka tas'' jelas Arsyad.

''Oh, begitu ya. Berarti pelakunya antara Dodik atau Alisa..hmm..tapi bukankah Heru juga agak aneh. Dia menghabiskan waktu terlalu lama untuk sekedar mengambil uang sakunya yang ketinggalan,'' seru Rama mencoba menganalisa.

''Heru memang tidak hanya mengambil uang saku waktu itu,'' jawab Arsyad.

''Berarti dia ya pelakunya?'' tanya Rama penasaran.

''Bukan dia,'' jawab Arsyad singkat. "Dia memang melakukan hal lain selain mengambil uang saku, tapi itu tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Kalian bisa menanyakannya pada Alisa nanti," tambah Arsyad yang semakin membuat kedua orang yang berjalan disampingnya penasaran. ''Setelah mengambil handphone, si pelaku kemudian menyembunyikannya di tempat yang tidak terduga,'' lanjut Arsyad mengembalikan topik pembicaraan.

''Dimana? Siapa? Arrrggh...lama-lama kau membuatku gila, Sad..'' teriak Rama yang sangat ingin tau.

Ketika mereka bertiga sampai disamping depan pintu kelas Listya, Arsyad menghentikan langkahnya tiba-tiba.

''Ada apa?'' tanya Listya yang juga menghentikan langkahnya.

''Pelakunya menyembunyikan handphone itu di bawah bangkunya. Caranya, setelah handphone tersebut berhasil di ambil dan dimatikan, si pelaku kemudian membungkusnya sedemikian rupa dan menempelkan bungkusan tersebut di sisi bangku bagian bawah dengan semacam sealtip atau boubletip. Karena karakteristik bangku disekolah ini agak berbeda -yaitu setiap sisi yang menghubungkan kaki-kaki bangku sedikit tertutup- maka memberi cukup ruang untuk menyembunyikan sesuatu di tempat itu'' Ucap Arsyad tiba-tiba.

''Oh, benar juga. Aku juga sering menyembunyikan bekas permen karet di situ'' kata Rama.

''Kalau begitu pelakunya adalah..'' kata Listya yang buru-buru dipotong Arsyad.

''Ya, dia membungkus handphone itu dengan kertas sampul berwarna cokelat agar tidak terlalu mencolok -karena bangku selah juga berwarna cokelat- dan menyembunyikannya ditempat tersebut..''

''Jadi pelaku yang mengambil handphone milik Listya adalah,'' Seru Arsyad bersamaan dengan keluarnya seorang murid dari kelas Listya. ''Kau, Dodik,'' Arsyad menunjuk murid yang baru saja keluar dari kelas yang ternyata adalah Dodik.

''Kau ini bicara apa, Syad?!'' teriak Dodik.

''Udahlah, jangan pura-pura. Kembalikan handphonenya cepat, sebelum tanganku yang bertindak nih..!!'' seru Rama.

''Jadi kalian masih menuduhku? Bukan aku pelakunya!!'' sanggah Dodik.

''Lalu kenapa kau masih ada di kelas sampai jam segini?'' tanya Arsyad yang tetap tenang.

''Ee..itu, itu.. Aku mengambil barangku yang tertinggal'' jawab Dodik yang terlihat mulai berkeringat.

''Sudahlah Dik, aku sudah tau semuanya," Arsyad terlihat yakin. "Aku mengetahuinya saat aku meminjam pulpenmu. Pulpen tersebut terasa sedikit lengket sama seperti pada resleting tas milik Listya,'' jelas Arsyad. ''Jika kau tetap tidak mau mengaku, tidak apa-apa. Tapi izin kan kami memeriksa tasmu sekali lagi..!!'' tambahnya.


Dodik yang gugup dan berkeringat tampak sedang berpikir sejenak. Namun kemudian, ia tertunduk lesu. Dodik lalu membuka tas miliknya dan mengeluarkan sebuah bungkusan. Bungkusan tersebut kemudian diberikan kepada Listya. ''Maaf Tya, memang aku lah yang mengambil handphonemu," aku Dodik. "Aku terpaksa. Adikku sedang sakit, dan orangtuaku tidak punya cukup uang untuk memeriksakannya ke dokter..''

Listya menerima bungkusan itu dan membukanya sehingga terlihatlah benda berbentuk kotak dengan gantungan boneka panda diujungnya yang sangat dikenali wanita itu.

''Apa kalian akan melaporkanku?'' tanya Dodik dengan cemas. ''Kumohon jangan,'' pintanya. ''Setelah kehilangan kakinya, ayahku tidak bisa bekerja lagi. Jadi akulah yang menggantikan posisinya sekarang..''

''Kehidupanmu memang berat, aku mengerti. Tapi bukan berarti kau boleh melakukan hal seperti itu,'' kata Arsyad sambil memandang mata Dodik yang mulai berkaca-kaca.

''I..iya, aku tau. Aku sangat menyesal,'' kata Dodik lirih. ''Maafkan aku,'' tambahnya yang kini diselingi dengan isakan.

''Karena handphoneku sudah kembali dan kamu pun telah menyesali perbuatanmu, tidak ada alasan untuk melaporkanmu, Dik,'' kata Listya dengan mata yang juga berkaca-kaca.

''Te..teri..ma kas..sih, Tya,'' terlihat Dodik mengatakannya sambil sesenggukan menahan tangis.

''Kau baik sekali, Tia,'' seru Rama dengan muka yang telah dibasahi air mata dan ingus.

''Hentikan wajah anehmu itu, Ram!'' kata Arsyad yang menganggap mimik wajah sedih Rama lebih terlihat sebagai mimik yang mengerikan dan aneh.

Keempatnya pun berjanji akan merahasiakan hal itu. Kemudian mereka akhirnya pulang kerumah masing-masing. Dirumah, Arsyad tiba-tiba mendapat sebuah panggilan telpon.

''Sad, aku terus kepikiran. Jika Dodik pelakunya, lalu kenapa Gilbert bersikap begitu aneh,'' teriak suara dari balik ujung telepon saat Arsyad mengangkatnya. ''Sebenarnya apa yang ada di dalam tasnya?'' tanya suara itu kemudian.

''Aku tidak tau kenapa, tapi yang pasti benda yang ada di dalam tasnya itu adalah sebuah PSP,'' jawab Arsyad yang tampaknya sangat mengenali suara sahabatnya itu.

''Ooh, PSP..'' seru Rama. ''Hmm...pasti karena si gendut itu khawatir teman-teman akan meminjam PSPnya jika mereka tau. Yah..aku paham perasaannya mengingat minggu lalu Pro-yo nya hancur dengan sempurna karena anak-anak yang meminjamnya kurang berhati-hati..''

''Aku dengar, kau adalah salah satunya,'' kata Arsyad ringan.

Diujung telpon terdengar kekehan Rama yang kemudian menutup teleponnya.

Sementara dirumah Alisa tepatnya dikamar, tampak wanita berambut lurus panjang duduk dikursi belajarnya. Mukanya kemerahan seperti orang yang baru saja tersipu. Mungkin itu akibat surat yang baru ia baca. Surat dengan amplop berwarna merah muda dengan gambar 'heart' ditengah penutupnya membuat wanita itu tersipu malu dan kadang tertawa kecil saat membaca isinya. Alisa baru pertama mendapat surat cinta sehingga ia agak sedikit kaget pada awalnya, mamun kemudian tampak sangat berbunga-bunga ketika tau si pengirim adalah orang yang ia suka. Di akhir kalimat surat tersebut tertulis dengan jelas disamping kanan bawah, nama pengirimnya Heru Satria.



***
CASE CLOSED
sampai jumpa di kasus berikutnya...

Read More...
gravatar

where is the phone?

Namanya Novemia Arsyad, biasa dipanggil Arsyad. Dia sekarang duduk di kelas 2 sebuah SMP negeri di Jogjakarta. Bisa dibilang ia termasuk murid yang pandai di kelasnya. Bahkan teman-temannya mengatakan harusnya ia bisa menjadi yang terpandai jika saja anak itu tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membaca manga (komik jepang). Yah..sebenarnya ia memang bisa melakukan hal tersebut jika dia mau tanpa harus mengurangi waktu membaca manganya, tapi semua itu terlihat sangat membosankan bagi remaja berparas cukup tampan tersebut. Daripada belajar giat agar meningkatkan nilai akademisnya, Arsyad lebih tertarik menghabiskan masa SMPnya dengan santai dan normal (pemuda itu tidak pernah menganggap belajar dengan giat merupakan hal yang normal).


Suatu ketika di tempat Arsyad bersekolah, saat jam istirahat telah usai, sebuah kegaduhan terdengar dari kelas yang berada disebelah kelas Arsyad. Walaupun jam istirahat telah usai namun tidak ada pelajaran saat itu karena para guru sedang rapat. Meski begitu, semua murid tidak diperbolehkan pulang sebelum jam sekolah usai. Arsyad sendiri terlihat masih sibuk membaca manga sehingga tidak terlalu memperhatikan kegaduhan yang terjadi sampai pada akhirnya seorang teman memanggilnya.

''Hei Sad, ada sesuatu yang menarik nih..!'' teriak seorang pemuda kurus yang berdiri di depan pintu kelasnya.

''Syad, bukan Sad. Berapa kali aku harus menerangkanmu soal ini, Ram?!'' sahut Arsyad tanpa mengalihkan perhatian terhadap manganya.

Karena merasa tak di gubris, pemuda yang bernama Rama tersebut kemudian menghampiri Arsyad.

''Hei Sad, aku yakin kau akan tertarik dengan hal ini. Ayo ikut denganku..!!'' seru Rama dengan semangatnya.

''Huh, Sad lagi. Sudah kubilang panggil aku Syad, bukan Sad'' sahut Arsyad ketus.

''Hhehe..sudahlah, kan itu hanya masalah sepele. Lagipula kamu sih, punya nama kuk ribet banget''

''Ribet?? Terserah kau sajalah''

''Hei..hei..hei, aku kan cuma bercanda kawan. Lagi baca apaan sih emangnya?'' tanya Rama.

''Kindaichi'' jawab Arsyad singkat.

''Wuaah, kebetulan sekali. Eh bukan bukan, ini bukan kebetulan. Mungkin ini takdir. Ya, takdir. Hmm..'' Rama kembali berseru dan kemudian mulai menyeringai aneh.

''Apaan sih?'' tanya Arsyad yang tidak mengerti maksud ucapan Rama.

''Begini sahabatku, di kelas sebelah baru aja terjadi sebuah kejadian yang sangat menarik. Benar-benar menarik'' jelas Rama dengan muka yang sok cool dan masih tetap menyeringai aneh.

''hmm..kalau dilihat dari mukamu, ini pasti tentang cara baru melihat celana dalam cewek. Iya, kan? Maaf, aku kurang tertarik sama yang begituan'' kata Arsyad.

''Hahaha..bukan itu..!! Ini bahkan jauh lebih menarik dari melihat celana dalam cewek.''

''Apa?'' tanya Arsyad.

''Kau tau Listya Ratnadewi, kan. Itu lho yang ceweknya manis tapi pemalu. Dia baru aja kehilangan handphone-nya hari ini. Ia meninggalkan handphonenya didalam tas lalu pergi keperpustakaan 1 jam sebelum istirahat. Saat istirahat usai, dia baru kembali kekelas dan mendapati handphonenya sudah tidak ada didalam tasnya'' jelas Rama yang sepertinya menunggu sesuatu muncul dari wajah Arsyad.

''Ohh.'' sahut Arsyad tanpa merubah mimik wajahnya yang sayu sedikitpun.

''Apa?! Setelah aku bercerita panjang lebar, kau hanya bilang ohh. Hanya itu? Aku kira kau akan bersemangat dan... '' Rama tidak meneruskan gerutuannya karena ia melihat Arsyad mulai bangkit dari tempat duduk.

''Sepertinya cukup menarik. Kalau begitu ayo Rama, kita coba pecahkan kasus ini'' ucap Arsyad meski dengan tenang namun terlihat sangat bersemangat sehingga terasa begitu keren.

''Hehe.., aku sudah menduganya. Kau pasti akan tertarik'' Seru Rama.

Kedua anak itu pun lalu pergi ke kelas sebelah yang ternyata telah ramai dikerumuni anak-anak lain. Setelah berhasil masuk ke dalam kelas, keduanya segera menemui Listya yang duduk di bangku guru.

''Tiaa.., sekarang kau tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah membawa detektif Arsyad yang akan menemukan handphonemu secepat kilat'' teriak Rama dengan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi dan kemudian tertawa keras.

''Apaan sih kau ini..?!!'' seru Arsyad sambil menjitak kepala Rama yang sedari tadi memang sangat menggiurkan untuk dijitak.

''Aku sudah mendengar cerita tentang kejadiannya dari Rama tapi sebelum kita bertindak terlalu jauh, apa kau yakin kau tidak sedang lupa tempat dimana kau menaruh handphonemu terakhir kali, Tia..??'' lanjut Arsyad yang sekarang telah memulai penyelidikannya.

''Apa maksudmu? Jelas itu tidak mungkin, kan..!!'' teriak pemuda bertubuh atletis yang berdiri disamping Listya. Pemuda itu bernama Yoan, ketua OSIS di sekolah Arsyad.

''Hei, Joan kenapa tidak mungkin? Bisa jadi Tia lupa naruhnya kan?'' sahut Rama membela sahabatnya.

''Tidak, aku masih sangat ingat  menaruhnya di dalam tas sebelum aku pergi ke perpustakaan'' ucap Listya lirih.

''Hhaa..benar kan, apa ku bilang..!!'' seru Yoan kepada Rama yang tampak menekuk bibirnya.

''Semua tas sudah diperiksa?'' tanya Arsyad entah pada siapa.

''Semua tas, laci meja, sepeda, kamar mandi, bahkan keranjang sampah sudah diperiksa namun kami tidak menemukan apa-apa'' kata seorang perempuan yang duduk disamping Listya.

''Hei May, kau tidak berpikir kedua orang aneh ini bisa membantu kan..?!'' ucap Yoan.

''Kau ini kenapa sih, Yoan? Kita sebagai OSIS sudah melakukan semua yang kita bisa, tapi belum ada hasilnya. Ya, siapa tau Arsyad bisa menemukannya.'' jawab Maya, wakil ketua OSIS.

''Hmm..jadi rentang waktunya dari saat Tya mulai meninggalkan kelas yaitu 1 jam sebelum waktu istirahat atau sekitar pukul 10.00 WIB sampai ia masuk kelas lagi saat jam istirahat usai atau sekitar pukul 11.15 WIB, benar begitu?'' kata Arsyad.

''Kalau itu kami juga sudah tau, dasar bodoh!!'' seru Yoan.

''Boleh aku periksa tas mu, Tya?'' tanya Arsyad yang tidak menghiraukan ucapan Yoan.

''Umm, iya.'' jawab Tya.

Arsyad pun kemudian menghampiri tas milik Listya dan mulai membuka resletingnya (resleting tas lho bukan resleting yg lain :p). Ketika mulai membuka tas itu, Arsyad nampaknya menemukan sesuatu.

''Apa ada orang lain yang membuka tas ini setelah kau mengetahui bahwa handphonemu hilang?'' tanya Arsyad tiba-tiba.

''tidak ada'' jawab Listya.

Mendengar jawaban Listya, Arsyad kembali memeriksa isi tas perempuan itu. Setelah selesai, ia kemudian menghampiri Listya.

''Sebelum meninggalkan kelas, apa kau ingat siapa saja yang masih berada di kelas waktu itu?'' tanya Arsyad pada Listya.

''Umm, seingatku waktu itu yang masih ada di kelas hanya Tika dan Dodik.''Jawab Listya.

''Benar Tik?'' tanya Yoan.

''I..iya, waktu itu aku sedang mengerjakan PR sejarah. Karena keasyikan, aku tidak sadar kalau kelas sudah kosong dan yang tertinggal hanya aku dan Dodik. Ta..tapi aku langsung keluar dan menyusul yang lain ke perpustakaan kuk'' jelas Tika.

''Benar begitu, Dik?'' tanya Rama.

''Sebenarnya aku tidak tahu. Waktu itu aku tertidur dan saat bangun kelas sudah kosong. Aku lalu pergi keluar untuk cuci muka dan kemudian ke perpustakaan'' cerita Dodik

''Lalu apa ada yang tahu siapa saja yang keluar masuk kelas dalam rentang waktu yang aku sebutkan tadi?'' Tanya Arsyad pada semua anak yang ada di kelas itu.

''Heru. Aku berpapasan dengannya dipintu kelas saat mau pergi ke kamar mandi'' kata Dodik mencoba mengingat-ingat.

''Ya. Aku memang masuk kelas waktu itu, tapi aku hanya mengambil uang jajanku yang tertinggal di tas.'' jelas Heru.

''Selain mereka, apa ada lagi?'' tanya Arsyad sekali lagi pada para anak yang ada di kelas tersebut.

''Masih ada 2 anak lagi. Setelah Heru keluar, masuk Alisa. Kemudian setelah Alisa keluar, datang Gilbert. Ia terus didalam sampai akhirnya rombongan besar para perempuan masuk kekelas.'' Seru seorang anak yang berdiri tepat didepan pintu yang dikerumuni banyak anak. Tangan kirinya terlihat sedang menenteng buku gambar.

''Bagaimana kau bisa tau sedetail itu, Tom?'' tanya Maya.

''Setelah istirahat pertama aku terus duduk didepan kelasku sambil menggambar sampai bel tanda istirahat kedua usai, jadi aku tahu siapa saja yang keluar masuk baik dikelasku ataupun dikelas ini'' ucap Tommy.

''Ya. Itu benar. Lagipula aku selalu disampingnya waktu itu.'' kata Rama tiba-tiba

''Disampingnya? Ngapain?'' tanya Yoan berlagak menyelidik.

''Tentu saja melihat dia menggambar, kan!'' jawab Rama.

''Sudahlah, kalian..!'' seru Arsyad.

''Alisa, Gilbert, apa benar kalian masuk ke kelas pada rentang waktu tersebut?'' lanjut Arsyad.

''Iya. Aku mengambil buku yang ketinggalan.'' kata Alisa singkat.

''sendiri? Atau ada teman yang mengetahui dengan jelas kegiatanmu saat itu?'' tanya Arsyad.

''Aku tidak yakin sih ada yang mengetahuinya karena kelas saat itu masih kosong.''

''Kalau kau, Gilbert?'' tanya Arsyad.

''Um..sekitar 5 menit setelah bel istirahat berbunyi, aku memang kembali kekelas'' jelas Gillbert.

''Dan apa yang kau lakukan dikelas saat jam istirahat?'' selidik Arsyad.

''Um..kalau itu aku..um..sebenarnya hanya..um anu waktu itu..ummm hanya membaca. Ya, hanya membaca dikelas'' jawab Gillbert terbata-bata.

''Hei, sepertinya ada yang kau sembunyikan, gendut.!!'' seru Yoan menanggapi jawaban Gillbert yang terbata-bata tadi.

''Akh, tidak tidak. Tidak ada kok..hhehe'' jawab Gillbert sambil nyengir tidak karuan.

''Jika semua tempat sudah diperiksa, ada kemungkinan Handphonenya disembunyikan ditempat yang tidak biasa'' kata Arsyad.

''Hei, tapi bisa jadi handphonenya udah ada diluar sekolah kan?'' sanggah Yoan.

''Tidak, jika melihat peraturan yang tidak memperbolehkan murid keluar dari lingkungan sekolah sebelum jam sekolah berakhir. Dengan kata lain, handphone itu masih ada di sekolah sampai saat ini.'' jelas Arsyad.

''Wow, keren Sad..!! Lalu siapa pelakunya?'' seru Rama.

''Aku belum tahu. Tapi yang pasti ada diantara 5 anak, Tika, Dodik, Heru, Alisa, dan Gilbert.'' jawab Arsyad.

''Jadi kau menuduhku, Syad?'' Teriak Heru.

''Apa alasanmu menuduhku, Syad?'' kini Dodik yang berteriak.

''Alibi kalian.'' jawab Arsyad dengan tenang.

''Alibi?!'' ucap Maya.

''Ya, alibi mereka disaat perkiraan waktu kejadian kurang kuat karena tidak ada saksi. Lagipula memang hanya mereka berlima yang sempat ada di kelas saat kelas dalam keadaan kosong.'' sahut Arsyad.

''Benar juga. Lalu siapa diantara kelima orang ini, Syad?'' tanya Rama tidak sabar.

''Sudah kubilang aku belum tau.'' jawab Arsyad.

''Tapi kalau boleh, bisakah aku memeriksa tas kalian?'' lanjut Arsyad yang kini bertanya kepada 5 anak tadi.

''Aku kan sudah memeriksa semua tas dikelas ini, bodoh!!'' seru Yoan.

''Kalau begitu mungkin kau si tuan sok pintar melewatkan sesuatu.'' jawab Arsyad singkat.

''Apa kau bilang?!'' seru Yoan lagi.

''Hentikan, Yoan!!'' kali ini Maya yang berseru.

''Kalau kamu merasa dapat menemukan sesuatu, silakan saja!'' lanjut Maya kepada Arsyad.

Kemudian Arsyad pun memeriksa kelima tas tersebut dimulai dari tas milik Tika. Dalam tas tersebut, Arsyad hanya menemukan buku-buku pelajaran. Tidak ada yang aneh. Kemudian pemuda itu melanjutkan ke tas berikutnya, yaitu tas milik Dodik. Dari tas tersebut, Arsyad menemukan segulung kertas untuk sampul buku berwarna cokelat tua, sebuah cutter, dan sebuah double tap yang tinggal separuh.

''Bisa aku pinjam pulpen yang ada disakumu, Dodik?'' tanya Arsyad tiba-tiba.

''Oh, iya. Ini..!'' sahut Dodik sambil memberikan pulpennya kepada Arsyad.

Arsyad kemudian mulai menulis sesuatu ditelapak tangannya. Setelah selesai dengan tas milik Dodik, Arsyad mulai memeriksa tas milik Heru. Disana ia menemukan sarung tangan keeper yang hanya ada 1 buah bukan sepasang, Arsyad juga menemukan secarik kertas yang kusut berisi sebuah puisi. Karena dirasa cukup, Arsyad melanjutkan ke tas berikutnya yaitu tas milik Alisa yang merupakan teman sebangku Listya. Di dalam tas Alisa, Arsyad menemukan sebotol lem kertas yang tampaknya masih baru, sebuah gunting, selusin ballpoint yang diikat dengan karet, dan sebuah amplop surat berwarna merah muda yang masih tertutup rapat.

''Alisa, kalau boleh tau, dimana kardus tempat pulpen-pulpen ini?'' tanya Arsyad sambil menunjuk ballpoint-ballpoint yang diikat dengan karet.

''Aku tidak tahu, sudah aku buang soalnya. Mungkin ditempat sampah.'' Jawab Alisa.

Setelah mendengar jawaban Alisa, Arsyad beralih ke tas terakhir milik Gilbert. Di dalam tas tersebut Arsyad tidak menemukan benda yang mencurigakan. Namun ketika ia akan mengakhiri pemeriksaannya, pemuda itu menemukan sesuatu yang aneh pada tas Gilbert. Ternyata ada sebuah tempat rahasia dibagian dalam tas tersebut. Arsyad kemudian memasukkan tangannya kedalam bagian tersebut dan ia menyentuh sebuah benda yang tak asing lagi baginya.

Tepat ketika tangan Arsyad mencoba menggenggam benda tersebut untuk mengeluarkannya dari dalam tas, beberapa guru datang.

''Heh..ada apa ini? Ayo semuanya kembali kekelas masing masing!!'' seru seorang guru.

''Listya, kamu ikut saya ke kantor guru sebentar ya!!'' seru seorang guru lainnya.

Gilbert yang sedari tadi cemas -entah karena apa- secara cepat mengeluarkan tangan Arsyad dari dalam tasnya dan menutup tasnya dengan segera. Arsyad pun terpaksa menghentikan penyelidikannya dan kembali ke kelasnya bersama Rama.

''Akh padahal tinggal sedikit lagi, para guru tadi mengganggu saja ya?'' kata Rama ketika dua pemuda tersebut sampai di depan pintu kelas mereka.

Arsyad hanya diam menanggapi ucapan Rama.

''Oiya setelah kau periksa tas mereka tadi, aku semakin yakin pelakunya adalah Gilbert. Ya, pasti dia. Benar, kan?'' bisik Rama.

Arsyad kemudian menghentikan langkahnya dan menatap Rama dengan tatapan serius. Pemuda itu lalu tersenyum seakan baru saja memenangkan sebuah lomba, dan akhirnya kembali melangkah lagi menuju bangkunya. Rama yang tidak mengerti maksud sahabatnya tersebut hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya ketika menuju bangku miliknya yang kebetulan memang berjauhan dengan bangku tempat Arsyad duduk.

***

Kira-kira siapa ya pelaku yang mengambil Hp milik Listya..??
Tika..? Dodik..? Heru..? Alisa..? atau Gilbert..?
hmm..tunggu postingan berikutnya...hhohoho
:p

Read More...
gravatar

Pahlawan Eteos (7)

''Palsu? Oh jadi maksudmu ada orang iseng yang kebetulan mengetahui kisah orangtuaku dan kemudian menulis surat tersebut untuk kesenangan pribadinya..begitu hah? Ini terdengar seperti lelucon..!!'' Seru Franky kesal. Pemuda itu merasa ada yang disembunyikan oleh Panini.

''Bukan. Mungkin ada seseorang yang ingin menjebakmu''. Panini tampak serius dengan ucapannya kali ini.

''Menjebakku? Kau pikir aku ini siapa? Pangeran? Anak terpilih? Aku tidak lebih dari seorang anak biasa dan berasal dari keluarga yang tidak jelas..'' Teriak Franky. Kini pemuda itu benar-benar berada dipuncak kekesalannya. Rasa penasaran ditambah kemuakannya terhadap sikap bertele-tele Panini dalam memaparkan kenyataan yang ada kini bercampur menjadi satu dalam hati pemuda tersebut.

Panini sendiri yang sedari tadi mencoba menanggapi Franky dengan tenang pun menjadi terpancing emosinya dan secara tak sadar ia berkata dengan nada yang tinggi,''Kau pikir begitu?! Asal kau tahu Franky kau itu anak dari pasangan paling berpengaruh terhadap kedamaian dunia ini. Puan Dwi Asyarah, ibumu. Dia adalah puteri Afromesia. Melalui kekuatan Crowd-nya, ia melindungi dunia ini. Lalu ayahmu, William Hegarty. Dia adalah seorang pejuang Meyrald yang berani mengorbankan nyawanya demi dapat mengurung makhluk paling gelap sejagad raya. Kau itu lebih dari seorang anak BIASA..!!''

Mendengar perkataan Panini, Franky hanya tercengang. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu. Kenyataan yang baru saja terlontarkan membuat misteri kepergian ayahnya selama sebelas tahun sedikit terkuak. Meski selama ini Franky selalu menegaskan bahwa ayahnya pergi ke Inggris, namun sebagian kecil dalam dirinya sebenarnya menyanksikan hal tersebut. Itulah alasan mengapa dirinya mau pergi mengikuti peta pada surat ayahnya tempo hari.

''Maaf'' Panini menghela nafas,''Perang Eteos adalah perang besar yang terjadi sepuluh tahun silam. Perang itu melibatkan lima kerajaan besar di Afromesia melawan kegelapan. Orangtuamu terpilih sebagai komandan tertinggi mewakili kerjaan Meyrald. Mereka bertarung gagah berani sehingga kami pun berhasil mendesak para pasukan kegelapan. Namun ditengah pertempuran, kedua orangtuamu bertemu dengan kegelapan yang sesungguhnya. Meskipun mereka sangat hebat namun masih belum dapat menandingi kekuatan kegelapan itu...''

''Corffin..'' potong Franky yang tampaknya menemukan sesuatu dalam pikirannya.

''Hah?!''

''Corffin.. Pria berjubah hitam dengan mata merah menyala. Dia adalah kegelapan itu, benar kan?!'' Kata Franky.

''I..iya, benar.'' Panini mengangguk pelan,''Tapi bagaimana kau bisa tahu?''

''Beberapa hari ini aku selalu bermimpi tentang kejadian itu. Dalam mimpiku, aku melihat ibu tersungkur tak berdaya. Ayah terluka sangat parah. Diantara mereka, berdiri seorang pria berjubah hitam, bermata merah, dan memiliki hawa dingin yang menusuk tulang. Pria itu ingin membunuh ayah..'' jelas Franky lirih.

''Namanya Digranithus Sintra Eksavalla Corffin. Dia adalah bangsawan Allf yang terikat dengan kekuatan kegelapan. Dialah pencetus terjadinya perang Eteos. Mungkin yang kau lihat itu bukanlah mimpi Franky. Mungkin itu adalah gambaran masa lalu''.

''Gambaran masa lalu ya..?'' Franky menghela nafas panjang.''Hmm..kupikir dengan pergi kesini aku dapat bertemu ayah, ternyata tidak ya. Tapi jika memang kenyataannya seperti apa yang kau bicarakan Tuan Panini, dapatkah aku mengunjungi makam orangtuaku''.

''Tentu, tentu saja. Biar Amie yang akan mengantarmu besok'' Jawab Panini.

''Terima kasih''. Ucap Franky singkat. Banyak hal baru yang pemuda itu dengar hari ini. Dan semua hal tersebut kini dengan sempurna memenuhi otaknya. Khasiat dari teh phidelya yang ia minum di penginapan Jonathan pun tampaknya telah hilang tak berbekas. Namun tiba-tiba Franky teringat sesuatu.

''Tuan Panini, bukankah tadi kau bilang surat dari ayahku adalah jebakan? Kalau itu memang benar jebakan, apa kira-kira maksud tujuannya?''

''Sebenarnya aku juga tidak begitu yakin, tapi menurutku tujuannya adalah agar bisa mendapatkan darahmu'' Panini mengucapkannya dengan nada yang serius.

''Darahku? Untuk apa?''

''Seperti yang sudah aku katakan tadi bahwa ayahmu mengorbankan nyawanya untuk membelenggu Corffin. Tubuh serta kekuatan Corffin terbelenggu dalam sebuah pedang Afromesia yang legendaris. Kemungkinan saat ini para pengikut Corffin mencoba membebaskan tuannya tersebut menggunakan darahmu'' Jelas Panini.

''Aku mengerti sekarang, ayahku kemungkinan melakukan suatu perjanjian menggunakan darahnya untuk mengurung Corffin. Dan karena aku adalah satu-satunya yang tersisa dari darah keturunan ayah, maka akulah yang diincar. Mereka mengincar darahku untuk membalikkan proses perjanjiannya sehingga Corffin dapat dibebaskan'' Franky mulai menganalisa.

''Yah, aku juga berpikir begitu''.

''Tapi mengapa harus repot-repot membawaku kesini, bukankah lebih mudah melakukannya di dunia ku?'' tanya Franky.

''Kalau soal itu pastilah disebabkan oleh keistimewaan gerbang Kingswood. Perancangnya membuat gerbang tersebut hanya bisa dilewati oleh mereka yang berhati bersih..'' Jelas Panini dengan yakinnya.

''Begitu ya..?! Jadi sebaiknya aku harus kembali ke duniaku agar mereka tidak dapat mengambil darahku. Benar kan?!'' kata Franky menyimpulkan.

''Yah, benar. Tapi selama kau masih disini, aku menjamin kau aman. Jadi kau boleh menginap selama yang kau mau''.

''Aku juga tidak ingin pergi sebelum mengunjungi makam ayah dan ibu. Dan jika benar makam itu ada, berarti makam ibu yang ada dijogja adalah palsu''.

"Begini Franky, sebenarnya yang disini hanya ada makam ibumu." kata Panini tiba-tiba

"Hanya makam ibu? Tapi kau bilang tadi..."

Read More...
gravatar

Pahlawan Eteos (6)

Sisa perjalanan mereka pun akhirnya dihabiskan Amie untuk menceritakan awal mula berdirinya desa Green Way yang sekarang sedang mereka jelajahi. Menceritakan kisah heroik Panglima Avereos Green dari kerajaan Meyrald yang bertarung gagah berani melawan ratusan Juggre demi mempertahankan daerah kekuasaan Meyrald yang paling barat--sekarang daerah tersebut menjadi desa Green Way-- serta tak lupa Amie juga menunjukan monumen Avereos sang pahlawan yang berada di tengah desa ketika mereka melewatinya.

Akhirnya langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah kayu besar yang tampak lebih terawat jika dibandingkan dengan rumah-rumah kayu yang mereka lewati di perjalanan. Pastilah disitu tempat tinggal ayahnya, pikir Franky. Kemudian Amie membuka pagar rumah tersebut dan mulai berjalan menuju pintu. Franky mengikutinya dari belakang sambil melihat-lihat halaman depan yang tidak terlalu luas namun tampak begitu hijau dan nyaman. Meski di beberapa sisi tembok rumah telah ditumbuhi tanaman rambat yang memberi kesan tua pada rumah tersebut, namun di bagian terasnya sangat bersih dan jauh dari kata tua. Franky kemudian melemparkan pandangannya kembali kedepan dan terlihatlah pintu--yang lagi-lagi dihiasi dengan ukiran gambar anak-anak kecil yang sedang mengejar seekor kucing--telah terbuka. Pemuda tersebut kemudian masuk mengikuti Amie.

Sunyi dan dingin. Begitu suasana yang timbul ketika memasuki ruang tamu rumah tersebut. Namun kaki-kaki mereka tidak berhenti dan terus melangkah jauh lebih dalam, menuju entah kemana. Mata Franky tak henti-hentinya mengekplorasi setiap ruangan yang mereka masuki. Saat tiba disebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang keluarga, Franky melihat sosok pria yang pernah samar-samar ia lihat sesaat sebelum dirinya pingsan ketika tiba di desa. Gusettav Yuvanocca Panini atau biasa dipanggil Tuan Panini, kepala desa Green Way. Masih dengan setelan taksido tuanya--yang kini berwarna coklat gelap--serta tongkat hitam kebesarannya, Pria itu berdiri menghadap perapian membelakangi Franky dan Amie. Tampaknya Panini tidak menyadari kedatangan mereka.

''Tuan Panini..? Kau baik-baik saja..?'' panggil Amie.

''Oh, kalian. Yah, aku baik-baik saja. Maaf, aku terlalu terbawa suasana rumah ini''. Jawab Panini yang segera berbalik ke arah Franky dan Amie. Tangan kirinya sempat terlihat sedang meletakkan sebuah bingkai photo keatas tempat perapian ketika berbalik.

''Ohh, syukurlah. Kalau begitu aku akan pergi kedapur untuk membuatkan minuman''. Kata Amie yang kemudian berbalik dan pergi menuju dapur.

''Terima kasih Amie. Ayo..duduklah Franky'' ucap Panini mempersilahkan duduk.

''Setiap kali masuk kerumah ini, aku selalu teringat mereka. Bermain catur bersama William. Lalu menikmati teh phidelya buatan Asya. Sungguh menyenangkan menghabiskan sore bersama mereka...hmm..meski aku tahu kini sudah sepuluh tahun sejak masa-masa indah itu, namun tetap saja terasa seperti baru kemarin''. lanjut Panini yang menceritakan kenangannya bersama orangtua Franky.

''Jadi sekarang ayahku tidak disini ya?'' Tanya Franky menanggapi cerita Panini.

''Tentu saja dia disini. Semangatnya selalu ada dirumah ini...selamanya..'' Jawab Panini lirih di akhir kalimat.

''Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti''.

''Begini Franky, kedua orangtuamu adalah sahabat terbaikku. Namun mereka gugur dalam perang Eteos sepuluh tahun silam. Maaf, harusnya aku tidak mengijinkan mereka ikut dalam peperangan itu..''

''Tapi tapi...bukankah ibuku meninggal waktu melahirkanku, dan ayahku masih hidup kan sampai saat ini?'' Tanya Franky tak percaya.

Panini hanya menggeleng.

''Sepertinya belum ada yang memberitahumu tentang kenyataan ini. Sekali lagi aku minta maaf Franky''. Kata Panini yang terlihat sangat menyesal entah karena apa.

Keduanya kemudian terdiam. Ruangan itu pun kembali sunyi. Mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing.

''Silakan diminum tehnya''. Kata Amie memecah lamunan dua pria tersebut.

''Iya, terima kasih Amie''. Sahut Panini.

''Uhm..Tuan Panini, jika tidak ada tugas lagi apakah boleh saya pergi ketempat Griss?''

''Tentu Amie. Kau boleh pergi kesana. Hari ini kau sudah banyak membantuku''. Jawab Panini sambil tersenyum.

''Terima kasih Tuan Panini, kalau begitu saya permisi dulu''. Kata Amie yang kemudian meninggalkan kedua pria itu.

''Sepuluh tahun yang lalu berarti satu tahun setelah ayah memutuskan untuk pergi bekerja ke Inggris.. Aku tidak menyangka, aku kira ayah meninggalkanku. Tapi tunggu sebentar, bagaimana dengan surat itu..yah surat itu membuktikan kalau ayah masih hidup''. Pikir Franky dalam hati mencoba merunut dan melogika kenyataan yang terjadi.

''Lalu bagaimana dengan surat dari ayah beberapa hari yang lalu?'' Tanya Franky.

''Surat? Surat apa?'' sahut Panini yang sepertinya tidak mengetahui perihal surat tersebut.

''Saat aku berulang tahun beberapa hari yang lalu, ayah mengirimkan surat untukku. Ia mengucapkan selamat dan memberitahu bahwa ibu meninggal bukan saat melahirkanku lalu menyuruhku datang ke tempatnya dan ia berjanji akan menjelaskan semuanya''. Jelas Franky

''Benarkah..? Jadi itu yang membuatmu kesini. jika surat itu memang benar dari ayahmu pastilah ia menggunakan jasa pengiriman tunda milik keluarga Dufflegrimt. Tapi aku menyanksikan William akan menggunakannya. Jadi menurutku, bisa saja itu adalah surat palsu''.

Read More...
gravatar

10 ilmuwan terpopuler dan tergila

1.Albert Einstein
Ilmuwan yang satu ini memang sangat populer dikalangan masyarakat dunia. bukan hanya karena penemuan-penemuannya yang bermanfaat bagi kemajuan dunia, namun juga karena style-nya yang sangat nyentrik. Bahkan parodi kartun dan komik tentang Einstein banyak dibuat hingga masa kini. Mulai dari rambutnya yang amburadul atau ekspresi wajahnya yang dibuat “melet” atau teorinya sekalipun. Tak bisa dibantah penemu teori relativitas ini sudah jadi selebriti dunia sains. Namanya bahkan identik dengan kata genius dan gila itu sendiri.
2. Leonardo da Vinci
Menyusul popularitas Einstein adalah Leonardo da Vinci. Novel Da Vinci Code, tokoh komik, isu bahwa ia gay adalah bukti bahwa seniman dan ilmuwan Italia ini memang sangat terkenal. Ia juga diketahui sangat nyentrik. Peninggalannya berupa tumpukan buku sketsa, aneka aplikasi teknologi, mesin, tetap abadi sepanjang masa.







3. Nikola Tesla

Kalau yang ini, namanya sempat dikenal sebagai sebuah kelompok musik rock. Sebenarnya sesuai, sebab penemu radio nirkabel dan generator AC inilah yang memulai era elektrik di akhir abad ke-19 dan awal abad 20. Tesla dianggap gila sebab berani mendemonstrasikan bagaimana ia memakai tubuhnya sebagai konduktor listrik.






4. James Lovelock

Dikenal sebagai ilmuwan berwawasan lingkungan dan penemu hipotesa Gaia. Konsep perubahan iklim yang kini diributkan banyak orang sudah diusungnya sejak beberapa dekade silam. Lelaki kelahiran 1919 ini pernah memprediksikan bahwa tahun 2100 akan terjadi kematian massal terhadap 80 persen umat manusia. Wow! Akan terbukti jugakah?


5. Jack Parsons

Jack Parsons dikenal sebagai salah satu pendiri Jet Propulsion Laboratory. Tapi sesungguhnya ia juga sibuk berlatih sulap dan menyebut dirinya Antikris. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal tapi mampu mengembangkan bahan bakar roket dan sukses mengantarkan Amerika Serikat ke angkasa pada Perang Dunia II. Tragisnya, Parsons menembak dirinya sendiri sampai mati di laboratoriumnya tahun 1952.



6. Richard Feynman

Ia adalah bagian dari tim genius pengembang bom atom. Feynman menjadi salah satu ilmuwan terpenting di akhir abad ke-20. Selain dikenal sebagai profesor, ia juga suka mengeksplorasi musik, alam dan mempelajari hiroglif suku Maya.







7. Freeman Dyson

Tahun 1960, Dyson menelurkan ide bahwa di masa depan manusia harus mendesain cangkang buatan yang dinamakan Dyson Sphere. Cangkang ini akan mengelilingi sistem tata surya dan menggunakan energi matahari secara maksimum. Saat itu ia dianggap sebagai pemimpi fiksi ilmiah. Ia juga yakin adanya kehidupan di planet lain. Menurutnya manusia akan berinteraksi dengan mahluk angkasa luar dalam beberapa dekade mendatang.



8. Robert Oppenheimer

Dijuluki sebagai bapak bom atom, lelaki kelahiran 1904 ini juga memiliki pandangan politik sosialis. Ia punya ketertarikan khusus pada kultur Hindu dan bahasa Sansekerta dan Belanda. Oppie, begitu pangilan akrabnya, senang mengutip kitab Bhagavad Gita.



9. Wernher von Braun

Di usia 12 tahun, Braun meledakkan gudang mainannya dengan kembang api. Dari situlah muncul ide mengembangkan roket. Akhirnya ia ditunjuk sebagai pempimpin program roket oleh Hitler. Ternyata ia juga meminati eksplorasi bulan dan antariksa. Di sela waktu luangnya Braun juga senang membaca filsafat dan sesekali bermain scuba diving.





10. Johann Konrad Dippel

Lahir dan besar di kastil Frankenstein, Jerman, Dippel dikenal sebagai penemu bahan kimia sintetis bernama Prussian Blue. Ia mengklaim pernah menciptakan cairan hidup abadi. Kabarnya, percobaannya itu terinspirasi oleh karakter yangs esuai dengan nama kastil tempat ia lahir, Franskenstein.

Read More...

Cuap-cuap

Entri Populer

The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku