gravatar

Pahlawan Eteos (8)

''Maaf Franky,'' ucap Panini penuh penyesalan dan tergambar jelas pada muka kusutnya. ''Saat aku tiba ditempat itu, aku hanya menemukan tubuh ibumu,'' nafas Panini sempat tertahan ketika mengatakannya.


''Ia terluka sangat parah, namun ia masih dalam keadaan sadar. Aku -sungguh- ingin langsung membawanya pada para penyembuh, tapi ibumu bilang itu tidak perlu,'' lanjut Tn. Panini.

''Syarah lalu menceritakan semua perihal tentang kejadian ditempat itu. Tentang Corffin -yang terbelenggu dalam pedang Afromesia- dan tentang tubuh ayahmu yang lenyap setelah melakukan perjanjian untuk membelenggu Corffin,'' jelas Panini masih dengan wajah kusutnya.

Franky sangat terkejut mendengar penjelasan dari Tn. Panini. Terutama ketika mengetahui kenyataan itu dari mulut sahabat kedua orangtuanya. Sahabat yang malah lebih memilih mendengarkan cerita ibunya meski ia tau wanita tersebut dalam keadaan sekarat daripada berusaha membopongnya menuju -sesuatu yang disebut sebagai- para penyembuh yang pastinya akan jauh lebih membantu.

Lagipula bukankah Tn. Panini bisa menunggu hingga ibu Franky baikan untuk mendengar ceritanya. Sekejap raut wajah Franky memerah menyiratkan kemarahan. Seolah-olah lelaki yang duduk didepannya tersebut ikut bertanggung jawab atas kematian ibunya.

''Anda sungguh melakukannya?'' tanya Franky dengan nada yang tinggi. ''Membiarkan wanita sekarat bercerita didepan mata anda..!'' kini Franky mulai berteriak.

''Sungguh aku tak ingin membiarkannya.''

''Seandainya kau tau keadaan saat...''

''Maka beri tau aku!!'' bentak Franky. ''Bukankah anda sahabatnya? Jika ayahku saja berani mengorbankan nyawanya demi dunia ini, kenapa anda tidak?''

''Anda hanya perlu mengorbankan sedikit tenaga anda untuk membawa tubuh ibu kepada mereka, para penyembuh -atau apalah itu sebutannya,'' teriakan Franky semakin menjadi. ''Apa itu terlalu berat?''

''CUKUP,'' bentak Tn. Panini yang telah berdiri. ''Cukup Franky!!''

''Aku juga telah mencobanya,'' kata Tn. Panini yang sudah sedikit lebih tenang. ''Jika saja ibumu tidak bersikeras menggunakan Crowd-nya untuk mengikat tubuhnya dengan tanah, aku pasti juga sudah membawanya kepada para penyembuh,'' jelas Tn. Panini sambil berusaha kembali duduk.

Keduanya terdiam. Masih terlihat sisa-sisa kemarahan diwajah Franky, namun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut pemuda itu. Tn. Panini juga sama, pria itu sedang berusaha menata ketenangannya kembali. Kemudian waktu pun terasa begitu lambat. Sampai pada akhirnya sebuah suara memecahkan lamunan Franky dan Tn. Panini.

''Maaf jika kurang sopan tapi ada sesuatu yang ingin kami sampaikan padamu, Tn. Panini!'' kata seorang pria berwajah pucat yang telah berdiri di depan pintu ruangan.

''Ada apa, Neo?'' tanya Tn. Panini.

''Seorang anak dari keluarga Dolareon ditemukan tewas di perbatasan desa bagian utara dalam keadaan tidak wajar,'' jawab pria itu datar.

''Bisa kau pastikan penyebabnya?'' tanya Tn. Panini sambil berdiri dan mencoba membenarkan topinya.

''Kemungkinan ini ulah sekumpulan wigorr,'' jawab pria itu.

''Baiklah, kita bicarakan masalah ini dikantorku. Kau boleh keluar, Neo!'' perintah Tn. Panini yang disambut dengan langkah kaki pria bermuka pucat menuju pintu keluar.

''Franky, kita sambung pembicaraan kita lain waktu,'' kata Tn. Panini. ''Aku akan meminta Amie untuk mengantarmu ke makam besok,'' lanjutnya.

''Apa aku boleh tinggal disini?'' tanya Franky lirih. ''untuk beberapa waktu.''

''Ya, tentu saja,'' sahut Tn. Panini mengiyakan. ''Kau boleh tinggal dirumah ini selama yang kau mau. Lagipula secara teknis, ini adalah rumahmu sekarang.''

''Jika kau butuh sesuatu, panggil saja twigigt,'' tambah Tn. Panini sebelum berbelok ke pintu keluar.

Tepat sebelum menghilang dalam belokan, Tn. Panini tersenyum dan berkata pada Franky. ''Kau benar-benar mirip William waktu muda.''

Setelah Tn. Panini pergi, rumah itu kembali pada kebiasaan lamanya. Sunyi dan dingin. Tubuh Franky duduk dengan lesu diatas kursi baca milik ayahnya. Pikirannya melayang, mencoba mengulang kejadian hari ini. Kilasan-kilasan gambar dari mimpinya masih sesekali terlintas di mata pemuda itu. Dan ketika bagian dimana wajah pria berjubah hitam itu terlintas dikepalanya,  Franky merasa mual dan jijik,

Jauh di benak Franky, sebenarnya ia sedikit menyesal telah membentak Tn. Panini. Mungkin dia memang telah berusaha keras membujuk ibunya saat itu. Kemudian pikiran Franky melayang lebih jauh lalu berputar. Dan tak terasa pemuda itu telah terlelap, meski matahai di luar baru berada tepat diatas ubun-ubun. Suasana ruangan yang tenang dan dingin serta nyamannya kursi baca yang diduduki Franky, membuat pemuda berambut perak itu mengistirahatkan tubuh serta pikirannya sejenak.

***

Cuap-cuap

Entri Populer